Berbicara tentang kaitan musik pop dan Palembang sekarang maka yang akan terlintas di pikiran masyarakat Indonesia umumnya dan juga Palembang khususnya sudah pasti adalah satu band bernama Armada. Tidak bisa dipungkiri kalau musik mereka memang “cocok” untuk telinga mayoritas masyarakat negeri ini yang kebanyakan menyukai pop model seperti itu. Dan di sisi industri arus utama pun beberapa tahun lalu bisa dibilang ikut berperan aktif dalam menaikkan pamor musik sejenis. Mungkin akan lebih memantik memori ingatan kita dengan istilah “Pop Melayu” yang santer dibicarakan beberapa tahun lalu.
Tidak ada yang namanya benar dan salah dalam bermusik. Yang ada hanyalah cocok atau tidaknya dengan seleramu. Karena jika kita melihat musik dari ranah personal maka akan banyak pandangan-pandangan subjektif yang bisa dipaparkan di atas meja. Jika kita menarik pandangan ke ranah musik pop di Palembang, dari saya kecil band pop di kota ini banyak yang terjebak dalam lingkaran festival band, bersaing mendapatkan gelar the best ini dan the best itu beserta ganjaran materinya. Stereotipnya kurang lebih seperti itu untuk band festival.
Ada juga yang memberanikan diri menempuh perjalanan ke industri musik di Jakarta, contohnya seperti band bernama Kertas yang kemudian berganti nama menjadi Armada. Untuk bisa menantang industri musik nasional bukanlah hal yang gampang. Sudah pasti banyak yang harus diperjuangkan dan dikorbankan. Tidak semua band sanggup menghadapi jalur ini.
Tipe lain dari band pop Palembang adalah menjadi band cafe atau wedding yang memainkan lagu-lagu Top 40. Ya, mereka melakukan ini sebagai pekerjaan. Bermusik untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup. Saya tidak akan mendiskreditkan pilihan yang diambil teman-teman musisi pop Palembang. Dari beberapa kategori yang saya paparkan tadi semua orang bebas memilih pilihan yang mana yang mau mereka ambil. Tentunya dengan konsekuensinya masing-masing.
Untuk lingkup yang lebih indie, geliat musik pop di Palembang semakin terasa menarik di sepuluh tahun terakhir. Kehadiran sebuah kolektif bernama Club Moluska menjadi semacam oase baru untuk ranah ini. Blonde House, Breath, dan Lazy Eye menjadi band-band awal yang saya amati terlibat di kolektif ini.

Club Moluska sendiri merupakan webzine, gig organizer, dan juga record label yang berasal dari Palembang. Di tahun 2021 Club Moluska mulai mengorganisir kegiatan musik reguler yang mereka beri nama Popsicel. Yang mana nantinya Popsicel ini akan berlanjut secara mandiri sebagai kolektif selepas Club Moluska tidak aktif.
Mulai dari akhir 2022, Popsicel mulai mengambil alih peran Club Moluska yang vakum. Dimulai dari Popsicel Live Session dan kemudian mereka mengorganisir acara mandiri dengan nama Pop Sicks!. Di tahun 2024 Popsicel terlibat juga dalam mengorganisir konser Grrrl Gang di Palembang.

Untuk urusan perilisan album di wilayah indie pop, hadir Ear to Ear yang mengisi ruang kosong tersebut. Beberapa band yang telah dirilis oleh Ear to Ear secara garis besar berada di lingkup pop seperti Glazze, Latch, Blonde House, Svvara, Peony, Dogdept, dan Contrecoup.

Beberapa hari sebelum 2024 berakhir, Ear to Ear mengontak saya untuk membantu membuat liner notes untuk agenda rilisan terbarunya berupa sebuah kompilasi berjudul “Harness Your Pop” berisikan 12 band berwarna musik indie pop. Mulai dari Alice Creek, Blonde House, Breath, Dogdept, Glazze, Jousef Estes, Latch, Lazy Eye, Mochan Pepin, Peony, Sleepover, dan Svvara terlibat di dalam kompilasi ini.

Saya selalu percaya sebuah rilisan fisik akan selalu menjadi penanda zaman. Begitu juga kompilasi ini, akan menjadi penanda suatu era dari kancah indie pop Palembang. Dan akan menjadi barang langka di dua puluh tahun mendatang, senasib seperti apa yang terjadi sekarang dengan kompilasi dari genre lain yang rilis dua puluh tahun lalu.
Secara segi musikal, menurut saya kompilasi ini menyuguhkan indie pop dalam cakupan yang lumayan luas. Tiap band yang terlibat pun memiliki karakter musikalnya masing-masing yang membuat kompilasi ini semakin majemuk dan kaya. Mulai dari indie pop yang bernuansa dreamy, muram, sedih, hingga lirik yang membuat berkontemplasi.
Mayoritas lagu di kompilasi ini sudah pernah dipublikasi oleh band yang terlibat, tapi ada juga Svvara yang memasukkan lagu barunya “Demise” yang belum pernah dirilis sebelumnya. Walaupun jika saya perhatikan beberapa band dari kompilasi ini sudah tidak begitu aktif, setidaknya karyanya terpublikasi lagi melalui rilisan ini. Tidak menutup kemungkinan bisa jadi mereka terpantik lagi untuk merilis katalog barunya di kemudian hari. Jousef Estes juga menjadi nama baru yang musiknya menarik perhatian saya.
Kemajuan ranah indie pop akan tergantung kepada apa-apa yang dibuat oleh pihak-pihak yang ada di dalamnya. Dalam hal ini Popsicel, Ear to Ear, dan band-band yang ada di lingkaran musik ini punya andil yang sangat besar.
Harapan saya tetap bergerak dan berkreasi, jangan gampang berkecil hati jikalau nantinya akan menghadapi ujian berupa minim apresiasi. Mengingat memang Palembang sendiri menempatkan industri kreatif di posisi kesekian dalam skala prioritas dan apresiasinya.
To express, not to impress. Show your spark. Keep the fire burning!
Kompilasi “Harness Your Pop” ini dirilis di Indonesia melalui Ear to Ear dan juga di Tiongkok oleh Nimo Records. Silahkan dengarkan keseluruhan materi kompilasi ini di laman Bandcamp Ear to Ear atau bisa juga membeli kaset kompilasinya di Blok Semanggi, Jl. Jend. Sudirman KM 3,5 Palembang (Dalam Komplek Dinas Perkebunan Sumsel).

Suka artikel ini? Kirimkan Gopay-mu untuk penulis!


