Selera Musik, Fanatisme, Hingga Polisi Skena

Semalam mas Dochi meminta saya untuk menulis di Knurd, ia bertanya kepada saya apakah ada kegelisahan atau sesuatu yang ingin saya ceritakan. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan permintaan salah satu idola saya sejak masa sekolah menengah pertama tersebut. Walaupun sejujurnya saya belum pernah punya pengalaman menulis di website dan belum tau akan menulis tentang apa semalam hehe.

Foto diri saya circa 2009 ketika sekolah menengah pertama dan sangat terinfluence dari Pee Wee Gakins dan Superman Is Dead.

Berbicara tentang kegelisahan atau keresahan, yang terlintas di kepala saya saat ini di depan layar dan keyboard adalah soal Fanatisme, Selera Musik, Hingga Polisi Skena.

Kata fanatisme berasal dari fanatik. Menurut website kamus KBBI, fanatisme fa·na·tis·me diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran politik, agama, dan sebagainya. Fanatisme juga lekat dalam dunia olahraga dan musik, khususnya di Indonesia. Fanatisme dalam dunia musik yang berlebihan tak jarang membuat penggemar menjadi toxic, seperti cuitan dan komentar merendahkan musisi dan penikmat musik lain di media sosial, atau bahkan secara offline seperti meneriaki nama band atau musisi idolanya saat musisi lain sedang tampil, yang padahal seharusnya mereka tau performernya bukan hanya idola mereka saja dan mungkin sudah dishare juga rundown acaranya. Sebenarnya tidak ada yang salah untuk menuhankan karya dan musisi idola, namun ketika sudah merendahkan musisi atau penikmat musik lain yang tidak satu frekuensi, itu yang gak keren.

Fenomena ini sering diabadikan dalam tangkapan layar di cuitan akun @txtbocahindie

Sedangkan untuk Polisi Skena, mungkin istilah ini sudah menjamur di kalangan penikmat musik sejak beberapa tahun silam ketika ada seorang jurnalis menghakimi salah satu penonton Barasuara yang terlihat pasif melipatkan tangannya di barisan depan. Polisi Skena merujuk kepada seseorang yang menghakimi kebiasaan, selera, ataupun opini penggemar musik di media sosial. Entah siapa yang pertama kali membuat istilah Polisi Skena tersebut. Kalo dipikir-pikir kayanya kita bahkan semua orang sempat pernah jadi Polisi Skena ya? hehe.

Salah satu contoh Polisi Skena bisa dilihat di kanal youtube DemajorsTV saat Pee Wee Gaskins tampil di Synchronize Fest 2017, terdapat beberapa komentar menghakimi crowd yang hanya berdiri saja seperti tidak menikmati pertunjukan band Pop Punk raksasa Indonesia tersebut, padahal setiap orang punya cara menikmati pertunjukan musik masing-masing.

Fenomena Polisi Skena pun sempat dikaryakan oleh Sir Dandy, front man dari band Teenage Death Star pada 15 mei 2020 lalu. Dalam lagu Polisi Skena, Sir Dandy dengan cara humoris menyampaikan bahwa tidak ada yang memiliki wewenang untuk membatasi atau menghakimi selera, pendapat, dan kebiasaan orang lain dalam menikmati musik.

Biasanya seseorang menjadi Polisi Skena juga bisa disebabkan oleh perasaan ingin terlihat berbeda. Ketika banyak orang menyukai salah satu musisi atau genre tertentu, lantas ia tidak ingin dirinya sama seperti orang lain. Sebenarnya lagi-lagi tidak ada masalah jika memang tidak menyukainya, namun ketika sudah menghakimi orang yang menyukai musik tersebut, itu yang gak keren. Seperti beberapa waktu lalu saya melihat salah satu cuitan di twitter: “Kenapa jd punk? Daripada jadi pendengar Perunggu.” Perunggu adalah band rock pulang ngantor yang memang sedang naik daun. Saya adalah salah satu pendengar perunggu. ‘Menurut saya’ lagu-lagu Perunggu bagus, ada nuansa sheila on 7 dan progresi chord emo midwest yang saya suka. Tapi jika menurut mu Perunggu biasa saja atau bahkan kamu tidak menyukainya, sayapun tidak berhak menghakimi mu seperti mengatakan bahwa kamu memiliki kuping yang buruk.

Perunggu dengan debut album memorandum.

Saya percaya selera orang berbeda-beda dan tidak dapat dipaksakan. Selera musik setiap orang pun terbentuk secara berbeda, mungkin dari faktor eksternal seperti musik yang sering diputar oleh orang tua kita dulu atau bahkan tanpa kita sadari tontonan masa kecil kita dulu mempengaruhi selera musik kita hari ini. Keluarga besar saya adalah penggemar Sheila On 7, sejak sekolah dasar saya mendengarkan album band Jogja tersebut di rumah, mungkin itu yang membuat saya menyukai Perunggu. Adapun faktor internal yang bisa mempengaruhi selera musik setiap individu, seperti dari kepribadian, emosinal, dan kognitif. Well, dikutip dari MedicalDaily: “Where Does Your Taste In Music Come From? It’s Complicated.”

Jika kamu ingin musik yang kamu percaya dan kamu suka bisa disukai juga oleh banyak orang, mungkin aksi bisa menjadi opsi. Jika kamu pelaku musik, sebarkan musikmu seluas luasnya tanpa menghakimi musik atau selera orang lain dan mungkin nanti akhirnya kamu pun akan mempunyai penggemar yang fanatiknya berlebihan lalu dihakimi Polisi Skena. Saya pernah membaca tulisan di internet: “Sejelek jeleknya karya pasti ada yang suka dan sebagus bagusnya karya pasti ada yang gak suka”. Jadi yaudah, fanatisme berlebihan yang cenderung toxic dan Polisi Skena itu sama-sama gak keren. Alangkah baiknya kalo suka musiknya ya dengerin, kalo enggak suka ya cukup gausah didengerin. Kalo mau lihat penampilannya ya nonton, kalo enggak suka ya keluar dulu atau ya nonton aja untuk menghargai penampilannya.

Jika agama dan budaya saja bisa ditoleransi, masa selera musik enggak? Spread love not hate, kill em with kindness!

Leave a Reply