Sebuah “Unsaid Ethic Code” Untuk Touring Band

Berbicara mengenai tour, tentunya hal ini memang tidak bisa lepas dari elemen inisiasi etika Do It Yourself dalam working system dari band independent. Mengapa?? Karena tour sendiri merupakan sebuah inisiasi yang dilakukan untuk mempromosikan musik satu musisi dan biasanya ini mereka lakukan setelah merilis satu album ataupun sebelum merilis satu album. Tapi kalau warta Knurd amatin sih kalau band lokal mah banyakan melihat band merilis album baru dulu sih baru abis itu pada tour soalnya percaya gak percaya tour itu dapat mendongkrak penjualan dari merch, rilisan fisik, sampai coverage pendengar DSP satu rilisan atau musisi.
Dalam proses touring sendiri sebenarnya banyak yang akan dilalui pastinya. Dari perasaan excitement-nya, bertemu banyak teman di kota lain, fucked up moment (ban bocor, ngejar show, kurang istirahat), sampai menjalin koneksi pertemanan antar kota. Tentunya gak sedikit selain hal-hal yang “gak mengenakan” terjadi antara organizer, touring band, venue, band supporting, sampai penonton. Oleh karena itu dengan artikel ini, warta Knurd mencoba merangkum apa aja sih kode etik “rahasia” yang sebenarnya applied untuk touring band agar di tiap gig tour yang ada gig yang berjalan kondusif dan mengenakan untuk semua pihak. Kami rasa ini penting untuk kami elaborasi mengingat gak dikit juga terjadi kejadian tidak mengenakan yang dilakukan oleh touring band yang dimana hal ini pastinya mempengaruhi image sebuah band terhadap komunitas ini sendiri. Dan bagi kalian yang punya band, hal ini kami rasa penting karena mau kalian di skena independent papan atas ataupun bawah karena pada akhirnya kalian pastinya membutuhkan support system dari komunitas itu sendiri dan kalian gak bisa jalan sendiri-sendiri tentunya!

Respect The Venue

Saya rasa untuk beberapa kota, bukanlah hal yang mudah untuk menemukan venue. Banyak sebenarnya yang dipertimbangkan untuk settle up terhadap satu venue ataupun men-set up/membuat satu venue. Karena disamping faktor kenyamanan di antara band, organizer, ataupun penontonnya, faktor yang menjadikan seseorang settle up terhadap satu venue adalah vibe-nya. Oleh karena itu venue bisa dikatakan merupakan sebuah “altar” terhadap satu komunitas.
So touring band please do concern about it! Bukan kalian aja yang akan pakai venue itu. Karena kalau kalian sendiri gak bisa memelihara venue yang ada berarti kalian sendiri telah berkontribusi untuk menghancurkan komunitas musik di daerah tersebut. At least jangan berbuat sesuatu yang destruktif lah, I know it’s rock n roll but this world is not yours in whole buddy!

Respect The Organizer

Meng-organize satu tour chapter sebenarnya hal yang dibilang gampang juga enggak susah juga enggak. Namun eksistensi organizer ini layaknya tidak boleh dikesampingkan. Tidak sedikit orang yang memang ber-passionate terhadap musik sehingga organizing gig merupakan satu “devoted thing” yang mereka mau lakukan. Dan saya rasa hal tersebut merupakan hal yang mulia dan layak untuk diapresiasi oleh banyak pihak. Shoutout terutama untuk para organizer mandiri yang masih percaya akan etos kerja mandiri dalam mengorganisir setiap operasinya.
Saya rasa touring band memang sudah selayaknya juga berkoperatif dengan organizer selama tur. Dimulai dari datang tepat waktu sesuai rundown, bercengkrama dengan setiap entitas di organizer (at least kenalan nama aja cukup sih kalau anda memang orang yang introvert banget), atau kalau bisa ikut berpartisipasi ketika hari H operasi tour berlangsung.
Sebaliknya apabila anda sendiri merupakan seseorang yang merasa gak bisa appreciate dari apa yang mampu disediakan oleh organizer maka penilaian negative akan ada kepada anda/band anda. Percayalah ketika band atau lo sendiri udah gak ada yang ngajakin main, komunitas merupakan shelter masih akan manampung lo. What comes around goes around!

Respect The Other Bands

Mungkin part ini merupakan part yang bersifat complementary tapi setidaknya apa yang anda dapat lakukan (setidaknya) adalah menyebutkan band-band yang telah bermain di gig di tengah set anda. Sebenarnya tidak ada salahnya juga sih untuk mingle dengan berbagai band pengiring di dalam acara karena dalam berskena ini penting adanya untuk membangun satu koneksi. Sukur-sukur kalau anda memang cukup baik bisa berkorespondensi lebih lanjut sehingga bisa saling bantu ketika band kenalan tersebut mau bertandang ke kota anda. Jangan biarkan kebaikan berhenti di satu titik! Karena dengan kesadaran kolektif ini saya yakin paradigma komunitas yang lebih positive dapat dibangun kok dan hal ini bukan merupakan hal yang utopis karena ini pernah terjadi di dalam komunitas saya sendiri.

Respect Your Audience

Yes objek ini memang secara langsung mendukung tur anda tanpa penonton sendiri lalu siapa yang akan mengapresiasi karya anda? Apabila anda memiliki cukup energi berlebih untuk berinteraksi maka jangan ragu untuk bercengkerama dengan para audiens. Saya rasa, khususnya di gig komunitas, sikap eksklusif (baca : rockstar) sendiri merupakan sebuah sikap yang secara automatis akan mendapat resistensi dari para entitas di dalamnya. Saya rasa apabila anda membangun sebuah vibe yang positive di dalam satu gig kepada audiens maka anda juga secara langsung telah membangun vibe yang positive bagi gig tour anda.

Overall bisa saya katakan bahwa diperlukan adanya positive mentality dari touring band kepada semua pihak yang telah membantu tour satu band berjalan. Saya rasa kredibilitas sendiri merupakan nilai yang tidak bisa ditukarkan dengan berapapun nominal merch/rilisan anda yang terjual ataupun nilai prestisius circle pergaulan anda. Panjang umur untuk pertemanan!

Leave a Reply