Blast From The Past : The Ataris – So Long Astoria (LP, 2003, Columbia)

Akhirnya announce juga The Ataris bakalan maen di Soundrenaline November nanti. Jujur saya sebenarnya bukan merupakan seorang audiens yang peduli tentang kualitas performance ketika band ini secara inisial datang 8 tahun yang lalu. All I care is how I got my voice emptied after the show haha! Tapi bener kejadian sih karena emang gig festival indie tersebut udah buat suara saya abis. Tapi gue sih gak dateng pas Kris Roe dateng bareng All-Star-Mxpx. Yang pasti saya harapkan ketika The Ataris di Soundrenaline nanti adalah set band ini bisa menjadikan saya “banci emo nite” yang habis suaranya haha! Sempet kecewa sih kalau band ini 3 tahun yang lalu batal tampil di Jak Cloth karena gak enak badan haha!
Kalau disuruh bercerita tentang “So Long Astoria”, wah ini album mah bener-bener soundtrack SMA dari soundtrack mau nembak terus ditolak terus nembak lagi terus ditolak lagi. Dan track yang jadi gacoan buat mixtape gue tuh “Looking Back On Today” dan akhirnya lagu ini dipake buat mixtape gue buat nembak bini gue yang sekarang sih (Alhamdulillah). Oke sori jadi curhat gak jelas haha! Yang pasti saya yakin “So Long Astoria” ini banyak hidupnya yang cukup relate apabila anda merupakan seseorang yang hidup di tahun 2000-an. Dan memang pertama lagu yang airing di kuping saya itu merupakan “In This Diary” yang dimana lagu ini pertama kali saya dengarkan di Prambors FM. Kala itu DJ atau penyiarnya juga sempat menjabarkan term yang baru menggaung di taun 2003-an yakni “emo”. Dan memang sih term “emo” sendiri baru nongol di skena taun 2004-an itu pun dari pengetahuan saya yang saya retrieve via WR Archive which is di tahun tersebut diadakan sebuah gig yang judulnya “We Need No Emo” yang icon posternya adalah The Hated.

Michael Davenport (left) and Kris Roe of The Ataris perform in 2003 in Mountain View, Calif.


Tapi “So Long Astoria” memang eksistensinya tidak dielakan kaitannya dengan 3rd wave emo karena memang album ini nongol di tahun-tahun tersebut jadi aja The Ataris bisa dikatakan merupakan salah satu eksponen 3rd wave emo bersama band lainnya, seperti My Chemical Romance sampai Thursday. Tapi kalau saya sendiri melihat figur dan musikalitas “So Long Astoria”-nya The Ataris sedikit kurang mengingatkan saya akan “24 Hour Revenge Therapy”-nya Jawbreaker di era 2nd wave emo atau era emocore lagi jaya-jayanya. Yes album ini memang dikenal sebagai album The Ataris yang paling personal dan “hit it correctly”secara komersial ataupun kualitas albumnya itu sendiri. Album “So Long Astoria” ini saya secara personal menandakan sebagai milestone dimana banyak band dari skena orgcore yang parting dari melodic punk dengan image konyol beranjak kepada melodic punk yang lebih brokenhearted kid secara lirik ataupun musiknya. Dan ini yang saya amati terjadi di skena lokal ataupun luar.
Tempat yang menjadi background album “So Long Astoria” yang bernama “Astoria” ini diambil dari sebuah film tahun 1985 yang berjudul “The Goonies” dimana juga film ini mengambil latar tempatnya di Astoria, Oregon. Dan untuk produser album ini terpilih nama Lou Giordano yang dimana beliau ini dikenal dengan beberapa karyanya di band seperti Sugar, Sunny Day Real Estate, sampai Goo Goo Dolls. Producer dengan karya yang nge-feels untuk album yang nge-feels. Dan saya bisa bilang formasi The Ataris di era ini merupakan formasi yang cukup golden juga mengingat member dari band ini cukup sering juga untuk keluar masuk. Formasi pada “So Long Astoria” sendiri diisi oleh Kris Roe (Frontman paling front + Vokal + Guitar), Mike Davenport (Bass), John Collura (Guitar), dan Chris Knapp (Drum). Dan secara tema sendiri memang Kris Roe mengakui bahwa dirinya terintroduksi dari sebuah buku yang berjudul “Go Now” dari Richard Hell yang dimana line yang kami quote di bawah ini memang cukup meng-influence songwriting Roe dan juga dijadikan tema dari album “So Long Astoria” itu sendiri

“Where he had a quote that said memories are better than life … I wanted this record to portray, that life is only as good as the memories we make”

Dan memang dari album “So Long Astoria” banyak konten lirik di lagunya berisi dari memory dari si Kris Roe itu sendiri. Mulai dari kenakalan remaja yang long lasting di “In My Diary” sampai kepada sebuah relationship anak-bapak yang komplikatif di “The Saddest Song”. Dari album ini sih gue ngeliat si Kris Roe memang meng-capture semua fase kehidupannya via album ini. Tidak, insya Allah saya tidak akan membuat highlight di lagu “The Saddest Song”, karena memang banyak dari track di album ini selain “The Saddest Song” yang jauh lebih layak untuk di-highlight.


Oke highlight pertama saya mulai dari track yang benar-benar fit in untuk ditempatkan di awal album yaitu track yang berjudul “So Long Astoria”. Asli ni lagu bener-bener accompany gue kalo lagi mudik haha… Tapi relate sih karena Mas Kris sendiri menulis lagu ini ketika dia ada di kampungnya, Anderson, Indiana. Ibarat kata kalo denger liriknya kaya napak tilas kehidupan yang dulu lah. Line yang nge-feel banget sih “Life is only as good as the memories we make and i’m taking back what belongs to me”, anjir ini sih kaya Mas Kris berasa jadi mentor mental health gue sih pas baca liriknya dulu. Lagu ini dimulai dengan rhytm guitar yang terdengar agak low lalu disusul dengan intro yang rhytm-nya signatur banget. Kadang untuk punya lagu yang bagus tuh emang gak perlu gitaris yang jago tapi gitaris yang bener-bener taste songwriting-nya bagus dan hal ini bisa direpresentasikan oleh Chris Collura di album ini karena emang isian beliau “accompany” banget. Dan part menjelang break yang diisi lyric line “Only they’re gone faster than the smell after it rains” itu sih part yang bener-bener nge-feels abis bahkan untuk fan orgcore berumur tua kaya gue part itu emang jadi highlight bahkan sticking di kepala gue. Dan part bridge ke outro yang dimana lyric line-nya yang paling ngena menurut gue sih di part “We’ll still have our stories of battle scars, pirate ships and wounded hearts, broken bones and all the best of friendships”. F**k itu ngena banget sih. Mas Kris memang trve sadboy before the sadboy term even existed in 2010’s ahead.
Oke kita beranjak ke highlight track selanjutnya yang berjudul “Takeoffs and Landings”. Anjir ini judul lagunya anak bandara bingits “Anak Bandara mah gak ada hari liburnya” #masyaAllah. Okelah yang pasti kayanya Mas Kris gak pernah kerja di bandara. Cuma ini lagu metaphore aja sih soal crushed down relationship Mas Kris. Ini nampaknya emang lagu carut marut kehidupan beliau ketika menulis “So Long Astoria”. Yah gak bisa dipungkiri kadang kesedihan dan kegalauan memang menjadi “bahan bakar” sendiri bagi kreatifitas seseorang. Di verse pertama ada lyric line emang durjana banget sih kalo yang di-catch sama jombloers dan wibu kesepian “The runway lights are the deepest blue like the colors of your eyes. So close them tight and kiss me one last time”. Mati lu! Dan melodi vokal di verse pertama emang cukup bridging banget untuk ke part chorus yang bener-bener melodious dan terdengar terharmonisasi secara baik. Lirik chorus “If only you could be. Right here by my side. Home wouldn’t seem so far from here” itu sih part yang bener-bener singalongable dan teardropable untuk para jombloers dan wibu kesepian. Dan di part interlude yang dimana di dalam part ini diisi dengan excerpt dari komunikasi Air Traffic Controller dengan Cockpit Crew. Anjir ini lagu bener-bener aviasi banget yak! The hell! Overall ini lagu dengan tema parting away yang iconic untuk album “So Long Astoria”.


Next highlight kami berikan kepada track “Summer 79” yang dimana lagu ini dimulai dari part verse dengan lyric line “Our last day of summer, 1979” dan melodi vokal di lirik line tersebut yang memang menjadi identitas dari lagu tersebut. Yes sekuat itu memang karakternya dari line tersebut. Dan memang lagu ini di-reveal sebagai lagu yang merepresentasikan old memory di masa muda dan juga kebanggaannya as being written di lyric line “We are the champions playing loud on the radio station. Everyone sing along with these anthems of our generation”. Wah itu si chorus line yang bener-bener merepresentasikan kerangka ide dari lagunya itu sendiri. Dan part coda yang diisi dengan sound synth dan harmonisasi karakter bang Kris cukup merepresentasikan tentang background 80’s yang mungkin musik di era tersebut merupakan era growing up dan mempengaruhi infulence musikalitas beliau.
Next merupakan sebuah cover song yang berjudul “Boys of Summer”. Yes ini merupakan sebuah cover song yang saya yakin banyak yang gak ngeh kalau ini merupakan sebuah cover song dari Don Henley-nya Eagle terkecuali yang bokapnya sering nyetel lagu slowrock jadul dan pernah waktu itu gue denger versi disko funkot-nya bosku! Mantaaappp! Ini merupakan sebuah lagu yang cover yang vibin banget sih dan memang relate banget sama tema album “So Long Astoria” itu sendiri. Di era album ini tuh si Kris Roe doyan banget ya ber-wardrobe kaos kantor item dengan dasi merah, asli SID banget haha! Tapi emang duluan “So Long Astoria” dibandingkan “Kuta Rock City” walaupun beda tanggal rilisnya 2 bulanan. Dan ini lagu yang emang disulap jadi lagu orgcore sih secara komposisi dan vibe-nya. Ini juga menunjukan bahwa The Ataris di era tersebut memang sedang berada di peak point untuk di ranah kreatifitas.


Next lagu yang berjudul “Looking Back On Today”. Wah ini mah lagu yang sweet dan gombal bener sih. Lagu mixtape yang nembak-able. Gimana kaga gombal coba?! Kita telaah lyric line di bagian chorusnya yang berbunyi “I’d want a million trillion life times that I could spend with you. I’d Fall in love with you again and again”. Ini sebenernya lagu yang cukup fine untuk di-pitching jadi scoring film chickflix. Gue sendiri awalnya memang dengernya versi akustikan dulu dan semenjak itu memang kepincut langsung sama ni lagu dan ternyata versi full bandnya lebih oke gan! Memang karakter dari lagu terletak dari chorus line-nya yang kita elaborasi liriknya di kalimat sebelumnya dan juga jangan lupakan lead guitar di part outro yang cukup iconic di lagu ini.
Wokeh kita akhirnya sampai di highlight terakhir yang diberikan untuk album “So Long Astoria” dan memang di luar single yang memang terkenal di album ini seperti “In This Diary” ataupun “The Saddest Song” saya banyak lagu lain yang sebenarnya worth it untuk dijadikan highlight dan salah satunya lagu yang berjudul “Eight of Nine”. Lagu ini merupakan track terakhir di dalam album “So Long Astoria” karena “I Won’t Spend Another Night Alone” sifatnya merupakan sebuah bonus track. Ini lagu yang cukup jleb juga sih dan Mas Kris sendiri confess kalau lagu ini merupakan lagu dengan tema lirik kematian. Wah goks sih! Tapi emang setau gue Mas Kris sempet punya issue sama drugs ya dan terakhir pas beliau ribut on stage sama drummer-nya beliau sendiri ngaku kalau dalam pengaruh drugs. Entah itu dalam konteks penggunaan kesehatan ataupun recreational saya gak tau sih cuman kalau ditelaah di lagu ini kayanya memang emosional sekali. Bisa ditelaah lyric line “Let this moment of clarity lift this curse that has been cast upon me” yang dimana cukup mendeskripsikan tentang tema lagu ini. Lagu ini dibuka dengan sound atmosfir rumah sakit dan yes album ini memang vibe dari tiap lagunya terasa sinematik dengan banyaknya sound atmosfir dan potongan percakapan yang diselipkan di setiap lagu dan memang hal tersebut yang menjadi poin plus dari album ini. Di sini Mas Kris membuka lagu dengan dengan part verse yang diisi dengan sound strumming gitar akustik yang terasa aduhai. Dan di part coda juga memang menjadi part yang well concepted dimana band ini menyisipkan vocal dengan acoustic guitar part yang dipadu dengan string section yang insya Allah menciptakan vibe lagu ini makin emosional. Lalu disusul di part outro yang terdengar paling emosional di dalam lagu ini dengan dihiasi oleh filling in seperti seseorang yang sedang koma dan mendengar suara para keluarga tercinta di dalam kepalanya. Damn asli ni lagu indah parah sih kalau gue bilang dan pas banget ditaro di track terakhir di album “So Long Astoria”.


Overall memang “So Long Astoria” merupakan sebuah lucky charm bagi karir The Ataris. Tercatat album ini dianugrahi sertifikasi Gold oleh RIAA dan dengan dirilisnya album ini The Ataris juga sempat tampil di berbagai acara televisi nasional US. Ya kalau ente dulunya merupakan seorang pemuda pemuja videopimp pasti pernah dapet The Ataris tampil di acara Conan O Brein. Dan juga memang legacy-nya terasa sampai hari ini sehingga “So Long Astoria” sendiri merupakan album Pop Punk “The 51 Most Essential Pop Punk Albums of All Time” oleh majalah musik asal London, Rock Sound. Dan yang pasti “So Long Astoria” matters banget buat soundtrack kehidupan gue dan mungkin kalau gue punya rejeki buat beli vinyl-nya nanti bakalan jadi salah satu item yang bakal gue warisin buat anak gue (:

Sites :
Bandcamp
Spotify
Facebook Page
Instagram

Leave a Reply