Metalcore Dari Masa Ke Masa, Interview Bersama Agus Suryanto (Hands Upon Salvation / Diorama Records)

Metalcore merupakan sebuah subgenre dari musik hardcore merupakan subgenre yang secara sejarah memang kaya akan cerita dan jangan lupa juga kalau subgenre ini juga melahirkan banyak genre turunannya, sebut saya HM-2 metal sounds sampai deathcore, dari band yang militan bin politis seperti Racetraitor sampai skala Grammy seperti As I Lay Dying.
Agus Suryanto sebenarnya merupakan entitas lama yang telah saya “keker” untuk menjadi sumber konten, selain koleksi rilisannya yang insya Allah bikin geleng-geleng sampai konsistensi Agus bersama Hands Upon Salvation yang sebenarnya menjadi “tolak ukur” bagi saya kalau musik sendiri memang tidak hanya sebagai hobi saja tetapi terkadang musik merupakan alasan saya masih bisa melanjutkan hidup saya sampai sekarang.

Knurd : Pertanyaan pertama, dulu bisa tau metalcore/edge metal tuh gimana ya Mas Agus??
Agus : Waini, dulu saya pertama mainin hardcore itu sekitar tahun 96, waktu itu bareng temen-temen 1 kelas, referensinya masih terbatas banget, lebih banyak dengerin musik-musik metal, alternative-rock, grunge, gitu-gitu. Plus dengerin Sepultura, Slayer, Nailbomb, Messiah, SOIA, Backfire, Brightside, gitu2. Band saya pas jaman itu namanya Diphterium Hate, berumur cuman sekitar 2 tahun, sempat rilis 1 demo kaset isinya 5 lagu, dan ikutan gabung di kompilasi “United Underground” yang isinya 1st wave band-band ekstrim di Jogja, macam Deathvomit, Sabotage, Impurity, Mystis, Black Boots, Atret, dll.
Nah, perkenalan awal saya dengan metalcore/ edge-metal waktu itu adalah, saya dapat pinjeman kaset home-taping dari temen-temen di Lexrost Studio, itu adalah kompilasi sampler dari label Diehard Music Worldwide (Denmark) judulnya “Diehard 96 Catalogue Update”. Disitu ada Grope, Captor, Spitink Devils, dll, termasuk 3 band yang akhirnya memperkenalkan saya ke H8000, mereka Barcode, Solid, dan Liar. Itu perkenalan pertama saya dengan 90s metalcore/ metallic-hardcore/ edge-metal.
Baru setelah itu, saya mulai nyari-nyari referensi kesana-kesini, home-taping, tape-trading antar temen-temen dari luar kota. Bahkan jaman pas Diphterium Hate sudah bubar, saya sempat jalan ke kota Malang, cuman sekedar kenalan sama temen-temen disana dan ngrekam referensi-referensi mereka. Sejak tengah era 90-an Malang sudah banyak melahirkan band-band metallic-hardcore yang bagus.
Setelah Diphterium Hate bubar, barulah beberapa personilnya bikin band baru namanya “Destruct” dan iya emang lsg milih kiblatnya ke 90’s metalcore, beberapa tahun kemudian “Destruct” ganti nama jadi “Hands Upon Salvation”.
Oh iya, setelah “Diehard 96..” kaset home-taping lain yang akhirnya bikin saya sangat intens dengerin metallic-hardcore adalah kompilasi New Age Records, “New Age Records sampler 1996” (Turning Point, Spawn, Unbroken, dll) dan juga  sampler dari Coretex Records “CT Mailorder #1” (Turmoil, Endeavor, Kickback, KIndred, dll)
Tiga kompilasi itu sih awalnya, sebelum saya mulai nyari2 yg sealbum-sealbum gitu.

Knurd : Jadi emang originated maenin metal ya dulu. Anyway ngomongin metalcore itu sendiri, subgenre sendiri sering mengalami penstreotipe (baik dari skena hardcore punk) kalo subgenre metalcore itu terlalu metal soundnya untuk musik hardcore punk itu sendiri.
Tanggapan anda sendiri gimana sih??
Agus : Era DH itu sebenarnya udah maenin hardcore, cuman lebih condong ke arah model Backfire, Brightside gitu. Baru setelah masuk era “Destruct” mulai deh ngiblatnya paling cocok ngerasanya. Kalo stereotipe emang kayak udah ada gitu, dan iya dibanding hardcore yang “kebanyakan” boleh jadi 90s metalcore itu terlalu “metal” di era saat itu ya. Kadang mereka yang pasang stereotipe itu lupa atau mungkin ga ngeh, kalo di lagu-lagunya SOIA, Youth Of Today, Cromags, dllnya udah banyak yang mengkoorporasi down-stroke di cara mereka maen gitarnya, so basically they’re the same, hardcore with metallic touch . Itu era 90an ya, masuk 2005 kesini khan kayaknya metalcore udah sempal jadi genre yang berdiri sendiri tanpa ada asal-usul hardcorenya, dan makin kesini khan makin banyak yang aneh2 dan akhirnya jadi buruk. Modern metalcore, ouch!

Knurd : Jadi menurut anda sendiri the so called modern metalcore tuh emang metal ya?? We talk about the headbangers ball roadrunner band ya
Agus : Ya mungkin, boleh jadi saya salah ya, soalnya saya udah ga ngikutin juga kalo modern-metalcore, term “modern-metalcore” khan nongol setelah sebelumnya ada istilah “new wave american metal” juga, ya mungkin istilah2 itu eksis buat kasih batasan yang jelas aja, drawing the line between they who played “modern” and “90’s”. Band-band dan label baru banyak kok yang maenin 90’s metalcore sekarang, dan mungkin istilah itu ada buat ngebedain aja konsep dan kiblatnya, secara musik aja dah beda koq antara tolet-tolet dan asal ada breakdown 

Knurd : Apa bisa jadi gak secara musik aja sih yang membuat the modern dan oldschool berbeda, jadi secara work ethic juga. Gimana menurut anda??
Agus : Bisa jadi gitu, kebanyakan yg maenin 90’s itu lebih militan, SxE atau vegetarian/ vegan, punya lirik dan aktivisme yang mendukung animal-liberation, eco-warfare, dst, dan pastinya punya DIY ethic yang masih dipegang erat. Mereka seperti eksis diluar lingkaran dari modern-metalcore dan lebih dekat ke scene hardcore, dengan segmentasi fans dan pendengar yang sepertinya eksklusif juga. Sedangkan modern-metalcore seperti punya tempat yang lebih establish, huge fest, dan seterusnya, lebih dekat ke scene metal, fans yang masif, cuman dengan energi dan intensitas musikal yang berbeda.

Knurd : Karena anda saya nilai sebagai “witness of generation” maka saya akan menanyakan hal ini. Banyak yang ngomong kalau Vision of Disorder sendiri yang sebenernya ngelahirin the so called wave modern metalcore ini, itu bener ya??
Agus : Saya nggak, cuman ini subyektif pendapat saya sendiri lho ya! VOD mungkin punya pengaruh ke modern-metalcore, cuman kalo saya kok ngeliatnya kok lebih ke Life Of Agony atau Dog Eat Dog, baru setelah itu eranya Chimaira, Killswitch Engage, As I Lay Dying, ampe Lamb Of God. Itu kalo nurut saya lho!
Oh iya, jangan lupa A7X, Shadows Fall, God Forbid, Spineshank, atau malah Lost Prophets.

Knurd : Nah sedikit nyinggung As I Lay Dying nih, katanya dulu pernah interview Tim Lambesis ya??
Agus : Ha? Emang iya? nggak ya, saya cuman pernah korespondensi bentar dulu, era sebelum AILD meledak disono, istilahnya masih band gigs-lah.
Antara 99-2000 itu
Setelah mereka rilis album dan meledak, udah putus kontak deh

Knurd : Oh gitu ya… Tapi menurut anda sendiri ketika ada band dari subkultur metalcore mendapatkan reconginition di komunitas Grammy, itu sebuah previllage atau anda sendiri ngeliatnya “metalcore doesn’t belong to that kind of place”??
Agus : Nah, ngomongin recognition, kalo saya mah terserah mereka-mereka aja, karena toh apapun itu semua band pasti ingin dapat pengakuan, tinggal sejauh mana pengakuan itu khan. Saya sampe sekarang masih suka dengan Heaven Shall Burn, 20 tahun lalu mereka masih bermain di gigs2 kecil seantero Eropa, sekarang mereka main di banyak festival besar juga disana. Tidak ada yang berbeda dengan mereka sejak 20 tahun lalu ampe sekarang, orang-orangnya tetep militan, lirik-liriknya tetep mengancam, intensitas dan agresifitas musiknya tetep terjaga ampe sekarang. Bedanya sekarang kualitasnya lebih bagus, dan matang. Buat saya pribadi, Heaven Shall Burn adalah contoh terbaik band 90s metalcore yang agresifitasnya tetep terjaga, orang2nya tetep humble dan down to earth, dengan ekspansi pengakuan yang masif dari banyak fans hardcore dan metal disana.
Contoh baik tapi juga buruk khan kayaknya teman sejawat mereka malah, pengakuannya bagus, tapi agresifitas musiknya berubah, Caliban, Parkway Drive, Crystal Lake. Subyektif lagi lho nih

Salah satu rilisan dari Good Life Recordings, Morning Again – Martyr LP

Knurd : Siap! Oke ngomongin sound sendiri, saya sebenernya melihat edge metal/90’s metalcore merupakan sebuah musik dengan estetika design soundnya yang khas vibenya di tahun 90-an itu sendiri. Sementara banyak band edge metal 90’s yang karena teknologi sound berkembang justru vibe 90’s nya rekaman di jaman sekarang jd gak sama sound nya seperti yang pernah dihasilkan dulu. Lets say hal ini saya alami ketika mendengar materi baru Morning Again dan xLIARx. Apakah anda beranggapan hal yang sama??
Menurut anda estetika sound itu masih bisa di-preserve gak sih oleh band-band metalcore purba yang masih aktif hari ini??
Agus : Nah ini, ini yang kadang tidak bisa ditolak, teknologi dan progresivitas sound. Penggunaan hardware, instrumen, ampe ke si engineer dibelakang meja mixing dan mastering, semuanya berkembang ngikutin jaman. Termasuk juga orang-orang dalam band itu sendiri, banyak pas mereka masih muda, energi dan vibe-nya jadi banget tuh, album-album era awal mereka pasti didengerin keren. Padahal era itu mungkin mereka masih pake Windows 95-98, pake pedal metalzone, dst. Cuman keren tuh karena mereka mendobrak pakem standar penulisan lagu “hardcore”. Nah, 20 tahun kemudian, banyak yang seiring usia bikin lagunya jadi seolah “berbeda”, vibe-nya masih ada, sisa kebesarannya masih ada, cuman kondisi proses kreatif aja yang berbeda, termasuk juga usia. Dan ga usah jauh-jauh, itu menimpa saya juga kok! Bandingin Hands Upon Salvation era “Celebrate The Newborn” dengan setelahnya pasti ada yg beda. Menurut saya, karakter sound dan vibe 90s itu bisa dijaga kok, cuman emang ada hal-hal yang tidak bisa dikompromikan, lambat laun pasti ada yg berubah, band-band lama banyak membuktikan itu, sedangkan band-band baru juga banyak yang ngulik hingga hampir menyerupai era 20-25 tahun yang lalu. Tengok band-band baru dari Bound By Modern Age Records [Jerman], The Coming Strife Records [UK], Life Lair Regret Records [Aussie], Retribution Network [Japan]. mereka ngebuktiin itu.

Knurd : Jangan-jangan kuncinya sendiri di pedal metalzone dan bass drum anti mic trigger ya wkwk…
Ngomongin Hands Upon Salvation, kan kemaren maen di acara Yogyakarta Metalcore tuh. Itu audiensnya sendiri gimana ya?? Karena saya liat lebih banyak band modern metalcore-nya ya, apakah gig kemarin berasa kaya challenging kah secara kehidupan per-band-an??
Agus : Nah bisa jadi gitu tuh, metalzone, anti-trigger, Windows 95 mentok Windows ME-lah ya haha software pake Opcode atau Steinberg wkwkwk. Kalo HUS di acara “Yogyakarta Metalcore” kemaren ya tetep santai2 aja sih, HUS itu khan kayak band yang bermusik buat dirinya sendiri, mo diterima monggo, nggak juga silakan. Cuek bebeklah ma pikiran orang. Chalengging iya, karena kita menghadapi audiens yang diluar kebiasaan, HUS khan biasanya maen di acara hardcore atau campuran genre gitulah, nah ini bener2 kita ditaruh di audiens dan fans metalcore yang notabene banyak yg maenin modern-metalcore, deathcore, post-hardcore, dan sejenisnya. Paling beda sendiri, plus kita ngadepin generation-gap yang lumayan membentang. Yang hampir se-era dengan kita cuman Killed On Juarez, dan End Of Julia, Nothing batal main. Kayaknya banyak yang mlongo sih, atau mungkin perutnya mual kali ya mo nelen musiknya HUS koq mungkin susahnya dicerna hahaha. Ya gitulah, cuman kita seneng sih disitu, liat band2 modern dengan semangat2 yang baru. Semuanya boleh dibilang tampil agresif dengan vibe dan kiblatnya masing-masing. Bassplayer saya ampe bilang “band-band ini kok gampang banget bikin two-step dan breakdown dimana-mana”. dan saya jawab “iyo, nek koe mumet yo, asuoq”

Knurd : Masih ngomongin Hands Upon Salvation, menjadi band yang lebih diterima di luar negri tuh sebenernya sebuah point plus apa point negative sih??
Agus : HUS itu semacam band yg kyknya segmented sekali, ga banyak orang yang bisa terima karya-karya HUS. Faktornya bisa macem-macem lho, dan terutama pilihan kiblat musiknya yang mungkin “beda”. Dan makin kesini, makin bertambah umur, kita semua juga makin sadar kalo emang pilihan kita itu nggak populer, makanya ada saya bilang diatas “HUS itu kayak bermusik buat dirinya sendiri”. Kalo soal lebih diterima diluar, itu cuman bonus aja, bonus kalo ternyata ada segelintir orang diluar sana yang suka dengan karya-karya HUS. Mereka bisa relate, mereka suka, dan voila! HUS sih seneng2 aja karena siapa sih yg ga suka karyanya didenger ama band2 yang sudah mempengaruhi band ini sendiri, pasti beda khan rasanya. Point plus-nya ya itu tadi. Kalo point negative, ya mungkin kita maennya jadi kejauhan jadi malah temennya dikit disini yang bisa appreciate.

Knurd : Terus dari kehidupan per-band-an pernah dong diajak tur keluar kayanya ya??
Agus : Belom. Belom sempat, pengen sih cuman belom kesampaian aja. Lagipula dengan kondisi sekarang kyknya bakal bener-bener butuh kesempatan dan timing yg tepat. Hampir semua dari band ini adalah pekerja, selain itu 2 personil sudah punya momongan pula, jadi kalo misal harus jalan tour, kita bener-bener harus mikir soal semua yg bakal kita tinggalin.

Knurd : Sori mase. Ini konteksnya tur luar negri kah??
Agus : He em. Ada beberapa kali cuman ya HUS aja yang belom sanggup. Soalnya kalo HUS itu pengennya ga cuman asal maen, asal tour, gitu. Kalo bisa ya maen dan ketemu ma orang-orang yang kita kenal baik, orang-orang yang bener-bener suka ma musiknya HUS, jadi semuanya bisa enjoy pas jalan kesana.

Knurd : Oh okeoke… Bisa ceritain tentang kehidupan selain ngeband?? Mungkin bisa ceritain soal zine dan label juga yang pernah dibuat
Agus : Kalo dulu saya bareng temen-temen NVB [New Vision Brotherhood] di Jogja pernah menginisiasi acara hardcore tahunan namanya “OFOB HC Fest” atau “One Family One Brotherhood”, kolektif NVB juga sempat menerbitkan zine yang mayoritas kontennya hardcore-hardcore-an, namanya “Fightback! zine”. Kemudian setelah kolektif ini bubar, acara OFOB jadi semacam tongkat estafet antar generasi di Jogja, diadakan sejak tahun 2000, terakhir kali sudah masuk putaran ke 9. Fightback! juga cuma bertahan 4 edisi aja. Kemudian saya juga sempat gabung dengan kolektif “Kongsi Jahat Syndicate” dan sempat membuat banyak gigs campuran untuk membantu teman-teman yang tour ke Jogja. Tapi itu dulu, kalo sekarang aktifitas saya sudah sangat berkurang. Kalo sekarang saya cuman pekerja biasa aja, gaji juga biasa-biasa aja haha, paling cuman jalanin HUS dan Diorama Records aja. Yuan, gitaris 1, dia anak multimedia yang hobi touring bareng klub motornya, bisnisan interior juga bareng keluarganya. Gitaris 2, Gangga, karyawan salah satu toko alat musik yg sudah terkenal di Jogja, doyan fitness, dan bentar lagi mo nikah. Daru, bass, dia sudah Ayah 3 anak, punya bisnis property dan kuliner. Drummer kita sekarang dibantu ma beberapa additional player.

Knurd : Ngomongin soal diaspora metalcore, kalau dilihat-lihat skena metal HM-2 itu skenanya lebih dekat dengan edge-metal/90’s metalcore dan ada yang bilang kalo HM-2 sendiri subgenre turunan dari metalcore. Itu menurut anda gimana ya?
Agus : Mungkin karena banyak kesamaan influens ya, karena kalo ga salah kebanyakan HM-2 itu pasti ada pengaruh dari Entombed, At The Gates, atau Dismember, mungkin lho ya, ada beberapa yang saya suka macam Nails, Trap Them, oh iya kemaren rilisan dari Throwe itu keren tuh.

Knurd : Kan sekarang di banyak skena tuh banyak isu bermunculan soal POC dan Binary. Pernah gak sih di skena metalcore itu muncul isu kalau skenanya sendiri didominasi oleh kaum white cis male dan dikategorikan bukan safe space bagi kaum-kaum Binary dan POC?? (Walaupun kita tahu ada Racetraitor yang notabene personilnya merupakan ras Timur Tengah)
Agus : Di luar mungkin ada banyak yg kyk gitu ya, cuman kalo di scene lokal kayaknya koq saya blom pernah denger. Masalah gender dan ras itu khan sudah mendarah-daging sejak lama, di era 90an gencar perlawanan terhadap WTO, dukungan buat Mumia Abu-Jamal, Leonard Peltier, dll. Bahkan RATM yang mendukung gerilyawan Zapatista sejak lama. Oh iya, btw, barusan RATM bikin tour lagi di US, dan slogan-slogan yg mereka bawa tetep mengancam, seperti wake-up call yang bilang kalo dunia hari ini masih tetap tidak baik-baik aja. Dimana saja, seharusnya scene band-bandan dan musik harus bisa menjadi safe-space buat semua kalangan didalamnya, mau ras dan keturunan apapun, musik harus mampu menjadi jembatan untuk mereka. Kalo inget dulu pernah ada slogan kayak gini “We were all humans, until race disconnected us, religion separated us, politics divided us, wealth classified us”. Kalo di scene lokal ya “Bhinneka Tunggal Ika” itu kali dah bener.
Tidak ada yg lebih superior dari yang lain, dan seharusnya emang kita semua punya pikiran kayk gitu.

Pete Wentz muda ketika masih Straight Edge

Knurd : Beberapa orang menyebutkan Code Orange merupakan band metalcore. Bagaimana menurut anda??
Agus : Wajar aja kalo mereka dianggep band metalcore, sejak masih pake nama “Code Orange Kids” mereka sudah kental dengan metallic hardcore bernuansa gelap, ada bau nuansa Integrity di album awal mereka. Setelah memotong “Kids” kayaknya eksplorasi musik mereka jadi makin jauh, ada vibe yang lebih grungy, sludgy, hingga shoegaze. Ditangan Kurt Ballou dan Deathwish, yg notabene banyak menelorkan hardcore dengan bermacam genre-blending, sekaligus juga banyak menciptakan progresivitas baru dalam dunia hardcore/punk/metal. Kalo kita liat katalog Deathwish, kita sudah pasti sadar betapa luasnya eksplorasi label ini berikut band-band didalamnya. Buat saya, Deathwish lebih semacam label avant-garde hardcore/punk/metal dibanding label-label hardcore yang lain.

Agus : Btw, ini saya boleh nanya balik ga sih?
Knurd : Hahaha… Boleh Mase
Agus : Nah, gitu dong. Ok deh, gimana dengan Jakarta dan sekitarnya sekarang? apa masih ada yang mainin 90’s metalcore kayak HUS, atau malah bablas modern-metalcore semua sekarang? Era Bluesky Records, Aunorysm Records, Undying Music ampe ke kompilasi “Crushing The Boundaries” dulu khan banyak tuh kayaknya, band2 macam For The Dying, Suja, Suffer Edge, For My Blood, dll. Area Depok kayaknya sempat legendaris jadi produsen metallic-hardcore lokal, bersaing dengan Malang di timur Jawa.
Knurd : Hahaha… Jujur saya gak tau sebenernya. Cuma tau metalcore Jakarta tuh Step Forward dan gak banyak juga. Mungkin sebagian kaya Straightout (Ini entah masih di kaidah 90’s metalcore apa enggak karena mereka 80% dulu musiknya Bleeding Through setau saya) dan Fall (Ini juga udah post hardcore banget soundnya). Saya jujur belum pernah tau ada band Jabodetabek yang musiknya metalcore Good Life Recordings atau H8000-an. Apa bisa jadi saya yang cetek aja ilmunya 😀
Tapi Fall sebelum menjadi band post hardcore emang edge metal banget sih.
Kalo modern metalcore jangan tanya ya! Itu mah musik yang didengerin temen kantor saya juga haha… BTW dulu saya inget sih ada Vision Eyes band Tomang situ. Does that count sir?? Emang sound mereka metalcore 2000-an banget sih ketika mereka sedang hype di skena Dejavu Cafe dulu
Terakhir justru saya sempet nonton band dari Jakarta namanya Tore Up. Mereka, kalo intepretasi saya sih, cukup Code Orange Kids/HM-2 dan mereka keren sih musiknya.

Knurd : Anyway saya lupa mau menanyakan soal modern metalcore tadi. Sementara banyak orang sendiri citing Shai Hulud sebagai nenek moyang genre modern metalcore, itu gimana menurut anda?? Malah kalo ngeliat progresi musik mereka malah bisa jadi juga mereka predesesor musik hardcore progressif kaya Counterparts
Agus : Stepforward, Straight Out, Fall, plus Paper Gangster kayaknya semua sudah berprogress sekarang, sesuai kiblat masing-masing tentunya, dan mungkin juga Vision Eyes. Setidaknya mereka2 ini yg saat ini keliatannya masih tetep eksis dan terus berproses.  Jujur kangen sih era-era ada Fist Of Fury, Suja, For My Blood, Suffer Edge, Burning Inside, Passenger, dll, cuman kayaknya mereka udah banyak yg ngilang, semoga pada reuni lagi deh ntar. Tore Up saya blom sempat denger sih, coba tar saya ngulik yak, rekomend juga yg lain dong, sapa tau nyangkut nih.
Shai Hulud, sah2 aja dibilang nenek moyang modern-metalcore. Pada dasarnya, band-band semacam Converge, Shai Hulud, Vision Of Disorder, Zao, PTW, Cave In, Misery Signals, dll pada akhirnya memberi pengaruh ke band seperti Counterparts, Stray From The Path, ampe Knocked Loose. Sementara di sisi lain, Morning Again, Undying, Day Of Suffering, Chapter, Abnegation, dll memberikan pengaruh ke band2 yang sekarang banyak mengisi katalog rilisan Bound By Modern Age atau The Coming Strife.
Tapi itu menurut saya lho, subyektif lho ini

Knurd : Itu sih yang saya pikirkan juga. Diaspora influence edge metal sendiri sebenarnya cukup luas pada musik yang berkembang di era milenium. Oke, next question, karena metalcore sendiri merupakan subgenre yang dimana eksponen-eksponennya banyak yang taat beribadah. Kalo di Amrik sana kita tau banyak band christian metalcore dan di Indonesia sendiri banyak band moslem metalcore seperti Stolen Vision. Di pandangan anda gimana sih mengenai asimilasi 2 budaya ini?? Musik dengan background agama
Agus : Hmm, seni dan kehidupan berkesenian pada dasarnya tumbuh dan berkembang karena asimilasinya juga. Politik, ekonomi, sosial, budaya, sejarah, dst pasti punya pengaruh dalam cara pandang kita berpikir dan berkesenian. Begitu luasnya hingga kepatuhan kepada agama atau kerinduan kepada sosok Yang Maha Esa juga punya tempat di dunia hardcore/metalcore. Diluar sudah banyak contohnya, dari yang Christian, Buddhist, Jewish, ada. Di scene lokal banyak yg menganut condong ke arah perspektif muslim seperti Stolen Vision, terakhir malah ada Illate 09 dari Malang yang lebih kental perspektif-nya malah, pernah juga ada gerakan “Metal 1 Jari” yang pernah besar di area Jabodetabek sana. Jawa tengah, timur, dan sebagian barat banyak band black metal mengklaim musik dan liriknya sebagai “Javanese Black Metal” dengan lirik-lirik sejarah dunia kejawen dan nada-nada pentatoniknya. Saya pribadi setuju aja dengan bentuk-bentuk asimilasi itu, mungkin perlu untuk mencari jati diri bermusik dan meresonansikannya lebih jauh, puncaknya khan jadi banyak pilihan kita sebagai fans musik. Cuman, kalo saya harap semua itu bukan karena untuk menjadikan mereka jadi “lebih” dari yang lain atau berfaham berbeda. Saat mereka berpikir bahwa mereka lebih superior daripada yang lain, maka disitulah saya akan berpendapat kalo karya-karya mereka tidak ada artinya.

Knurd : Jadi setelah Integrity digosipkan merupakan band White Supremacy, anda masih mendengarkan Integrity kah??
Agus : Udah beneran apa gosip nih konteksnya?
Knurd : haha! Beneran sih
Agus : Haha, Saya udah lama ga ngikutin sepak-terjangnya Integrity soalnya. Yang saya tau sekarang khan Dwid udah lama tinggal di Belgia, plus beberapa waktu lalu pas ada peristiwa kematian rasial George Floyd khan ada beredar dukungan anti-rasisme dari Tankcrimes Records, bentuknya video-video singkat dari personil bermacam band seperti High On Fire, Sepultura, Sleep, Gatecreeper, dll termasuk ada Integrity disitu. Makanya koq aneh kalo misalnya mereka jadi band pembawa white-supremacy.
Phil Anselmo “Pantera” dulu juga pernah disebut kayak gitu gara-gara Nazi salute, Lemmy “Motorhead” juga, bahkan cuman gara-gara dia banyak koleksi uniform, pernak-pernik, outfit tentang Nazi, Morrissey pernah disebut anti imigran juga lho
Atau mungkin, aslinya itu cuman gogon2 permusikan diluar sana kali ya, sama aja kayak artis lokal pada pansos bikin gosip baru, settingan baru, etc buat menjaga oplah media tetap terjaga?
Kalo masih inget yang paling seru khan kemaren pas Radiohead mutusin buat tour ke Israel, yang akhirnya mereka dianggep mendukung zionisme.
Cuman apa semua itu bikin saya berhenti dengerin mereka? Nggak, setidaknya belom, karena perlu dilihat lagi apakah ini masalah personal atau masalah band, masalah pribadi dalam band itu, atau masalah band hingga ke karya-karyanya.

Knurd : Wah! Gak tau ya saya juga haha! Last question, apa sih yang membuat anda betah untuk digging subkultur metalcore??
Agus : Hmm, apa ya, ya udah hobi aja gitu, hardcore and metal and everything in between is my hobby , orang-orang khan banyak yg hobinya berkebun, naik sepeda, touring motor, mancing, dll. Nah mungkin kalo saya ya itu hobi saya. Orang kalo udah hobi, mo bikin rugi mo bikin untung ga ada peduli deh, soalnya dijalanin aja udah ngerasa seneng. Ya bonusnya dapat banyak temen, apresiasi karya, koleksian dari stiker ampe vinyl, ya gitu deh.

Leave a Reply