Review: Kikagaku Moyo’s Masana Temples (2018)

“Masana dapat diartikan sebagai kata yang mendeskripsikan sebuah situasi dunia yang utopis”, ujar Kikagaku Moyo.

Skor: 4 dari 5

Sebagai seorang penikmat musik alternatif, adalah hal yang tak bisa luput dari perhatian ketika membicarakan dan/atau mengonsumsi musik beraliran psychedelic. Dimulai dari meroketnya aliran tersebut di dekade 60-an yang dibarengi dengan hippie culture, penggunaan obat-obatan rekreatif, dan gerakan-gerakan cinta damai lainnya, aliran musik psychedelic pada akhirnya menjadi bagian dari perkembangan kultural yang terus menerus relevan.

Sedikit pembukaan terkait biografi Kikagaku Moyo, band psychedelic ini dibentuk pada tahun 2012. Mereka memulai perjalanan mereka dengan busking (baca: ngamen), di jalanan Tokyo. Pertemuan antara Kurosawa Go (drummer) dan Katsurada Tomo (gitar) menjadi katalis terbentuknya band ini. Berasal dari background musik yang berbeda, maka terbentuklah band dengan sonic palette yang luas dan eksperimental. Mereka memasukkan unsur folk pada musik psychedelic yang mereka ciptakan, terbukti dengan penggunaan sitar pada komposisi-komposisi yang mereka buat.

Album Masana Temples yang dirilis tahun 2018 lalu menjadi salah satu album yang masuk kedalam kategori must listen before you die buat saya. Album ini direkam di Lisbon, Portugal dan di produksi oleh musisi jazz kenamaan, Bruno Pernadas. Tangan produser inilah yang menjadi salah satu unsur mengapa Masana menjadi karya yang begitu unik. Komposisi psychedelic yang dibarengi dengan produksi ala jazz memberikan paduan sonic experimentation yang unik dan dalam konteks pengerjaan album ini, menjadi sesuatu yang memberikan poin tambahan dalam kualitas.

Track pertama album ini adalah Entrance, dimana alunan sitar mendominasi telinga kanan dan kiri pendengar. Produksi yang “mengawang” namun tetap terkontrol adalah poin yang mendorong album ini dan by extension, the whole band, menjadi salah satu band favorit saya saat ini. High point dari album ini bisa didengar pada track kedua, Dripping Sun. Dengan durasi 8 menit, Kikagaku Moyo benar-benar memaksimalkan space dan resource yang ada untuk membentuk sound yang penuh dan rapi. Bayangkan sebuah sungai yang mengalir sebelum menjadi air terjun. Itulah Dripping Sun. Selain dinamika pelan-keras-pelan, Masana juga dipenuhi dengan ide-ide yang diinspirasi oleh genre lain. Dalam track Majupose, Kikagaku Moyo memasukkan unsur jazz dengan penggunaan polyrhythm (ritme 7/8) yang menjadikan track ini cukup menarik untuk didengarkan. Coba hitung dari 1 sampai 7, bukan 1 sampai 4 seperti musik pop pada umumnya.

Masana Temples adalah album yang aksesibel bagi pendengar awam maupun yang sudah familiar dengan aliran musik terkait. Terinspirasi dari pengalaman perjalanan mereka sebagai satu unit, Kikagaku Moyo menelurkan sebuah karya yang tajam, halus, rapi, dan berdefinisi. Give it a listen.

Leave a Reply