Album Aftermath dari Belmont, Angin Segar Pencinta Pop Punk di Tahun 2022

“Bagai melihat air di tengah gurun yang gersang”

Begitulah kalimat gue mengawali artikel kali ini. Di tengah-tengah gempuran rilisan musik-musik folk, EDM, solois, dan lain-lain pada tahun ini, Belmont merilis album yang bertajuk Aftermath, membuat para pencinta musik pop punk begitu bergairah saat mendengarnya.

Yap, meski banyak orang yang beranggapan kalau genre musik yang satu ini terdengar cukup berisik, tetapi bagi kita tentu saja tidak. Semakin gahar petikan gitarnya, kocokan bass-nya, lengkingan suarau vokalisnya serta keras kick bass drum serta perpaduan hit hat dan senar dari suatu musik, semakin kita menikmatinya dan seolah-olah waktu berhenti begitu saja sehingga kita selalu merasa muda, tanpa harus merasa tua meski usia terus bertambah.

Beruntungnya, elo bisa mendapatkan itu di album terbaru dari Belmont, yaitu Aftermath. Nggak bisa dimungkiri, album ini bagi gue masuk ke dalam album yang perlu didengerin sebagai pencinta musik pop punk. Dan mungkin, elo yang suka pop punk wajib banget buat dengerin Belmont.

Aftermath dikemas dengan 12 lagu di dalamnya. Lagu pertama di album ini berjudul Fully Sent. Awalnya gue kira ya lagunya biasa aja, nggak sebagus lagunya yang Overstepping, lagu yang ngebuat gue jatuh cinta sama band asal Chicago ini.

Di intro elo akan ngedenger alunan musik EDM yang disentuk dengan bait-bait lirik dengan suara nge-bass. Gue pikir, yah paling mau ngikutin tren musik saat ini. Nyatanya, pas si vokalis, Taz Johnson, masuk ke bagian lirik “fully sent i never spend my life wasting all that time again”, gue langsung terpesona dengan lagu ini. Kayak jatuh cinta pada pandangan pertama lah. Ditambah, iringan ketukan crash simbal drum, senar, dan kick bass dengan pola yang langsung melekat di telinga gue. Seakan-akan, di awal lagu langsung diselipin breakdown yang berkesan. Nggak perlu waktu lama bagi gue buat jatuh cinta sama lagu Fully Sent.

Nggak berhenti sampai situ, lagu kedua pun menyajikan musik yang lebih gahar lagi. Lagu bertajuk Parasitic langsung berhasil membuat gue makin jatuh cinta sama album Aftermath. Bagaimana tidak, di intro lagu elo langsung disajikan breakdown yang membuat kepala elo headbang sendiri, ditambah alunan melodi gitar yang melengkapinya.

Bagi gue, di lagu Parasitic vokal si Taz terdengar lebih scream dan beda dari lagu Fully Sent. Tentu saja, di part ini gue makin bergairah buat mendengarkan lagu ini berulang kali.

Tampaknya Belmont memang nggak mau memberikan kesan bagus cuman dua lagu doang. Lagu berikutnya yang merupakan favorit dari gue yaitu berjudul Bowser’s Castle. Saking favoritnya, bahkan lagu ini sudah masuk ke kategori On Repeat di Spotify.

Bagian reff lagu ini udah langsung ditampilin di awal lagu dan itu berasa sangat mengesankan bagi gue. Yang unik dari reff-nya yaitu kick bass drum-nya yang nggak begitu padet, tapi pukulan simbal dan snare-nya yang langsung nempel di telinga. Bagi para drummer, gue sangat yakin bakalan jatuh cinta sama pola drum di lagu yang satu ini.

Bowser’s Castle juga diisi dengan suara vokal Taz yang agak scream. Banyak bagian breakdown di lagu ini. Lagunya memang cuman 2:57 menit, tapi bagi gue setiap part di lagu ini sangat berkesan.

Berlanjut ke lagu berikutnya yaitu berjudul Pain Now. Sama seperti ketiga lagu sebelumnya, Pain Now ini diisi dengan isian drum yang menarik. Sesekali sang drummer, Brian Lada, menyelipkan double pedal di lagu ini. Gue yakin saat elo mendengarkan lagu yang satu ini kaki dan kepala udah pasti gerak.

Sentuhan agak berbeda menurut gue di album ini terletak di lagu Country Girl. Di tengah lagu elo akan mendengarkan musik EDM yang berpadu dengan suara Taz. Part yang menarik dari lagu ini tentu saja terletak di bagian reff. Entah kenapa, reff-nya gampang masuk ke telinga gue. Dan terdengar lebih soft dibandingkan dengan keempat lagu yang udah gue bicarakan.

Setiap album pasti terdapat lagu slow-nya, entah itu hanya akustik atau isian EDM. Gue kira lagu 4am//Dissapear bakal mewakili hal tersebut. Pasalnya, elo hanya akan mendengarkan suara EDM dengan sang vokal di awal lagu sampai pertengahan.

Tapi ternyata gue salah. Di tengah lagu tiba-tiba saja terdengar ketukan drum serta iringan gitar distorsi. Menurut gue, lagu ini lebih enak terdengar ketika drum dan gitar sudah masuk ke dalamnya. Di awal hingga pertengahan gue tidak terlalu menikmatinya dengan khidmat.

Itu beberapa lagu yang mungkin bisa gue bicarakan di album Aftermathnya, Belmont. Masih ada lagu lain yang bisa elo dengerin di album ini kayak What I Lack, Never Found, Advanced Darkness, In My Skin, dan Top Gun (From The Top).

Percayalah, album ini bisa menjadi surga yang indah bagi pencinta pop punk di tahun 2022. Bagi gue, Belmont sudah berhasil membuat gue tetap muda meski di tahun 2022 ini gue udah mau menginjak kepala ketiga.

Leave a Reply