Manis di Luar, Pahit di Dalam: Lagu-lagu Pop Punk Bermuatan Lirik Kelam

Apa? Kelam? Mana mungkin ‘kan pop punk itu harusnya ceria dan penuh keriaan?!

Saya yakin satu dari sekian banyak pembaca artikel ini akan memiliki pendapat seperti itu ketika baru membaca judulnya saja. Opini macam itu tentu tidak bisa dihindari berkat citra musik pop punk yang terlalu erat dengan tampilan kemasannya saja yang kerap kali diglorifikasi. Belum lagi karena terlalu banyak band-band so-called pop punk di Indonesia mau pun di luar negeri yang terlalu sering menggunakan formula romansa cinta monyet picisan dan sialnya menjadi terkenal. Jadi maklum saja kalau pop punk lebih sering dipandang lewat jendela perspektif seperti itu. Eh, sebetulnya tidak apa-apa juga menggunakan formula lirik macam itu. Tapi ketika patah hati dieksploitasi terlalu buta, menurut saya jadinya malah banal muatan liriknya. Just saying.

Apabila dikulik lebih dalam dan disimak lebih seksama, sebetulnya ada beberapa band pop punk yang mempunyai katalog lagu bermuatan lirik depresif nan nihilis. Tentu narasi tersebut dibalut dengan musik yang terkesan upbeat ala pop punk/punk rock, namun kalau didengarkan sembari menyimak liriknya lebih dalam malahan terkesan pedih. Biar kebayang kayak gimana, silahkan jajal beberapa lagu pop punk pahit pilihan saya untuk merubah perspektifmu tentang subgenre yang diliputi terlalu banyak klise di dalamnya tersebut. Check them out.

The Dopamines – “Cincinnati Harmony”

Kalau disimak dari permukaannya saja, sebetulnya lagu milik band asal Ohio, AS ini sebetulnya super catchy dan seru. Tapi kalau kamu baca lebih detail liriknya, sialan banget isinya. Lagu yang terdapat di album kedua mereka yang bertajuk Expect The Worst (2010) ini bercerita tentang bagaimana sang penulis lagu yang berstatus alkoholik memandang hidupnya yang hancur banget dan membandingkannya dengan teman minumnya yang lebih sukses dan mapan secara finansial.

Penggalan lirik paling kelam: “So you got a raise this week? So you got a new car? Oh how have I been doing lately? Wouldn’t you like to compare. Well since you asked: I’m clinically depressed,
I lost my job and everyone thinks I’m worthless”

House Boat – “My Life Hurts”

Mungkin sudah tidak aneh ketika menemukan lirik yang mengecilkan diri sendiri di ranah pop punk. Meski begitu, tidak banyak yang bisa menyusun diksi sepahit Grath Madden, vokalis dari House Boat. Di lagu ini, dia memaparkan tentang bagaimana rasanya menjadi sendiri dan berada di ujung tepi kondisi depresi dalam hidupnya. Sesuai dengan judulnya, this one actually hurts.

Penggalan lirik paling kelam: “My friends are all tired, my family’s a joke. There’s something I’m clinging to, but it’s not hope. Cause there’s no hope”

Off With Their Heads – “Die Today”

Bekerja memang tidak semudah bertahan sabar selama satu bulan dan mengerjakan brief dari atasan saja. Kadang ketika kondisi mental sedang tidak mumpuni, kadang banyak pikiran yang enggak-enggak menyusup ke nalar. Konteks semacam itu tergambar jelas lewat lirik lagu dari band yang kini bernaung di bawah bendera Epitaph Records ini. Liriknya lumayan eksplisit dan gelap banget mengingat narasi lirik di paruh terakhir lagunya menceritakan bagaimana sang penyanyi memilih untuk mati daripada harus bekerja dan menghadapi hidupnya.

Penggalan lirik paling kelam: “I don’t care about anyone when the dealers paid and gone and pain is relieved. I’ll tie it tight around my neck and kick the chair out with my legs. Because I want to fucking die today”

Dear Landlord – “High Fives”

Lagi-lagi lagu tentang alkoholik yang meratapi hidupnya yang na’as. Lagu dari unit midwest pop punk ini bercerita tentang seorang pemabuk yang berusaha menyenangkan dirinya dengan teman minumnya dan tak mempedulikan akan hidup berantakannya. Meski dia dikejar hutang dan cicilan apartemen, dia cuma pengin minum buat tetap melangsungkan hidupnya. Kacau.

Penggalan lirik paling kelam: Alright, high fives for low lives. Drinking lonely, heartsick drinks tonight. Some days, some nights just slip by. Sometimes I’m wishing that this world would die”

PUP – “DVP”

Perasaan ketika ditolak oleh orang yang kita sukai memang pedih banget. Apalagi kalau ditolaknya karena hal yang bodoh seperti salah bicara atau salah bertingkah. Seperti narasi lirik lagu dari band asal Kanada ini. Karena hal kecil, bisa berimbas dengan pikiran yang destruktif.

Penggalan lirik paling kelam: “I’m driving fast to get away. Doing 180 on the Don Valley Parkway. Yeah, I’d be better off dead I don’t give a shit. I just don’t wanna die and I don’t want to live”


Semua lirik di atas bukan bermaksud untuk mempengaruhi untuk bertindak negatif dan juga bagi kamu yang menulis lagu untuk bernarasi sangat kelam. Ini semua hanya untuk berbagi informasi belaka. Namun, kalau kamu ingin membuat karya bernuansa seperti itu, silahkan. Art is free. Tapi kalau kamu merasa katarsis lewat menulis belum terlalu efektif, jangan sungkan buat cari pertolongan atau teman ngobrol ya. Stay sane and get help.

prablematic

Picking Teengenerate over Shonen Knife. Enjoying Monty Pythons

Leave a Reply