Selit Belit Atensi Massa Akan Neck Deep

“Yaaa, namanya juga selera” adalah dalih pengampun terampuh ketika sebuah diskusi membara mengenai preferensi di ranah musik mulai meluncur menuju konflik. Seperti yang kerap terjadi dalam konteks diskursus di ranah pop punk dan tetek bengeknya. Meski betul adanya beberapa derivasi padanan dan makna terhadap subgenre musik tersebut, memang ada parameter tersendiri kenapa pop punk masih bisa disebut “pop punk” walau musiknya sudah terdengar berbeda dari kaidah beberapa predesornya. Dengan konteks tersebut, selalu menarik rasanya bagi saya untuk membahas dinamika musik sekaligus fashion dari band-band pop punk modern yang dikomparasikan dengan band-band pop punk dari era-era sebelumnya.

Berbicara tentang perbandingan band pop punk, salah satu band pop punk masa kini yang kerap menggaet atensi khalayak warga musik secara ramai adalah sosok Neck Deep. Oh iya, sebelum membahasnya lebih lanjut, saya ingin mengakui bahwa inisiator ide awal tulisan ini bukanlah datang dari rasa penasaran saya pribadi. Malahan, saya tertarik untuk menuangkan opini tentang hal ini berkat hasil obrolan bersama Dochi Sadega alias pak bos Knurd yang mungkin kamu kenal lewat kiprahnya bersama band pop punk lokal raksasa bernama Pee Wee Gaskins.

Suatu hari, tiba-tiba saja dia membuka obrolan dengan saya tentang kenapa Neck Deep menjadi top-of-mind banyak orang ketika berbicara pop punk hari ini. Celotehan ojol-ojol darinya itu berhasil membuat nalar saya gatal. Betul juga ternyata setelah dipikir-pikir. Kenapa banyak orang hari ini kerap menyebutkan nama Neck Deep ketika membahas pop punk. Tak berhenti di pembuka hipotesis itu saja, saya pun penasaran kenapa banyak orang (dari dalam dan luar lingkup pop punk) yang sangat menyukai band asal Wales, Inggris tersebut.


Neck Deep (via kerrang.com)

Kiprah Neck Deep yang dimulai pada tahun 2012 terasa semakin melejit ketika mereka menelurkan album Life’s Not out to Get You (2015). Album yang berisi lagu “Kali Ma” tersebut dianggap sebagai lesatan karir besar Neck Deep untuk menembus berbagai macam lapisan pendengar pop punk dari berbagai kalangan dan domisili. Belum lagi album The Peace and The Panic (2017) semakin mematenkan torehan eksistensi Neck Deep di kancah pop punk dan sampai akhirnya reputasi mereka sebagai salah satu band pop punk modern wahid dunia semakin tak terlengserkan dari klasemennya.

Setelah mengamati lebih seksama dan mencoba untuk memahami kiprah yang Neck Deep emban, saya rasa ada beberapa faktor mengapa mereka bisa menggapai status mahsyur seperti sekarang. Salah satu faktor utamanya tentu saja datang dari kualitas musik pop punk yang mereka mainkan. Ada beberapa orang yang menganggap Neck Deep amat piawai dalam menggubah sebuah karya musik pop punk dan bisa dinikmati secara nyaman. Untuk melengkapi anggapan positif tersebut, ada juga yang beranggapan bahwa narasi lirik yang Neck Deep sajikan terasa personal dan relatable di berbagai level referensi pemahaman di masing-masing skala pendengarnya.

Di balik penilaian positif tersebut, ternyata ada pula pihak-pihak yang tidak setuju dengan penilaian tersebut. Ironisnya, bahkan Dochi yang memberikan ide untuk tulisan saya ini pun merasa Neck Deep tidak seistimewa itu. Dia menilai bahwa musik pop punk yang band asal Inggris tersebut bawakan generik. “Liriknya cringe. Struktur lagunya (mudah) ketebak. Suaranya (vokal) agak ganggu. Ya generik aja. Tapi kok bisa stand out,” celotehnya.

Selain Dochi, Andresa Nugraha dari unit garage punk The Battlebeats sekaligus bassist Saturday Night Karaoke pun dengan gamblangnya menyatakan bahwa dia tidak menyukai musik Neck Deep. “Saya enggak suka (musiknya Neck Deep) soalnya (musiknya) jelek buat saya mah. ‘Kan katanya pop punk ya? Mungkin (preferensi) musik pop-nya (Neck Deep) lebih mengacu ke (musik pop ala) boyband 2000-an. Ya oke aja sih, enggak ada salahnya, cuma bukan selera saya aja,” ujar Andresa. Untuk menekankan opininya, Andresa pun menambahkan, “buat saya, pop punk paling oke mah pop punk 80-90-an lah. Karena (preferensi musik popnya) masih mengacu ke pop 60-an”.

Untuk urusan musikalitas, saya pun kurang lebih sepakat dengan opini Dochi dan Andresa. Di luar selera saya yang memang tidak terlalu menyukai nuansa dan citra pop punk modern, memang ketika didengarkan secara seksama musik yang Neck Deep tidak memiliki pembaharuan dari band-band sejawatnya.


Untuk memperluas perspektif, saya pun iseng bertanya kepada pengamat musik sekaligus pemilik toko merchandise musik Quickening, Yongki Perdana tentang persepsinya akan Neck Deep. Ketika ditanya soal eksistensi Neck Deep, Yongki beropini, “pas awal 2010-an ketika audience sudah jenuh dengan neon pop punk / bubblegum pop punk, gelombang easycore ala NFG balik lagi. Tapi Neck Deep-lah yang top notch dari semuanya”. Dia pun menambahkan bahwa Neck Deep pun adalah salah satu band era revival tersebut yang berhasil mengeksekusi musik yang bersifat “pengulangan” dengan lebih ciamik dan membuka gelombang subgenre musik baru di eranya. “Coba hitung berapa banyak band yang mengkombinasikan pop punk, emo dan alt rock 90-an setelah era Neck Deep. Sebut saja band-band macam Turnover atau Tigers Jaw. Semuanya hanya pengulangan. Tinggal bagaimana mereka mencari celah untuk menggabungkannya dan menjadikannya fresh”.

Dari opini yang Yongki utarakan, memang betul itulah yang terbukti nyata terjadi di lapangan. Saya rasa ada betulnya bahwa Neck Deep jugalah yang menjadi salah satu virus mengapa tren musik pop punk hibrida emo modern semakin masif arus serangannya terhadap umat warga musik di seluruh dunia. Dan hal tersebut memang bisa dinilai dari dua sisi, mau itu baik atau pun buruk. Because most of the time, trend is actually not quite a good thing.


Selain dari segi musikalitas, saya rasa Neck Deep pun berhasil memikat banyak penggemar musik lewat citra visual dan fashion yang mereka tampilkan lewat publikasi dan karyanya. Banyak foto dan publikasi dari Neck Deep yang menampilkan cita rasa fashion mereka yang sesuai dengan tren fashion streetwear favorit anak muda hari ini. Dan saya anggap ketika ada suatu band yang berpenampilan sesuai dengan zamannya, hal itu akan menarik perhatian dari banyak orang (termasuk normies) untuk memerhatikan kiprahnya karena secara pengamatan seksama, mereka terlihat keren.

Anggapan saya tentang aspek fashion yang mempengaruhi reputasi Neck Deep pun didukung oleh opini dari rekan jurnalis saya, Ilham Fadhilah, yang kini menjalankan media pop culture independen yang bernama Chlorine. Ilham berkata, “kayaknya ngaruh dari segi fashion juga ya. Hampir mirip case-nya kayak Turnstile-lah”. Ilham menambahkan, “di saat band-band yang seangkatan mereka masih pada pake baju band yang nggak banyak orang tahu, Neck Deep udah pada pake brand fashion yang kebetulan saat itu lagi nge-hype juga. Kayak Supreme, Huf dan lain-lain”. Anggapan fashion sebagai senjata penunjang popularitas dan relevansi Neck Deep pun dikemukakan oleh Yongki. Dia berujar, “ketika tren berpakaian digantikan oleh trend streetwear ala 90-an di 2010, fenomena itu turut berpengaruh dalam visual band-band pop punk yang muncul saat itu”.

Dari hasil beberapa diskusi yang saya tempuh dan tertuang di atas, akhirnya saya mampu menarik hipotesis personal tentang fenomena kemahsyuran Neck Deep ini. Bagi saya, Neck Deep adalah band yang beruntung dan memang sedang mengantongi keniscayaan zaman.


Begini, keberuntungan bukanlah hal yang baru di kancah musik dan karir sebuah band. Banyak band besar dari berbagai zaman yang namanya bisa melesat berkat keberuntungan. Seperti Shonen Knife yang tiba-tiba menjadi besar karena diajak tur oleh Nirvana atau Hoolahoop yang proses naik daunnya lumayan mulus di awal kemunculannya karena mendapatkan “dorongan” dari salah seorang personil Rocket Rockers yang kebetulan memang mempunyai hubungan darah dengan sang vokalis. Dan Neck Deep pun pada kenyataannya mendapatkan berkah keberuntungan di awal karirnya. Ketika Ben Barlow memutuskan untuk merekam lagu pop punk isengnya bersama Lloyd Roberts di fase embrionik band asal Inggris tersebut, mereka tidaklah melakukannya dengan serius. Hanya untuk bersenang-senang. Tetapi keberuntungan menghampiri mereka lewat dua gig pertamanya yang sold out dan dokumen kontrak kerjasama dari Hopeless Records yang tak disangka-sangka. Semua itu suratan takdir.

Neck Deep pun saya anggap sebagai band yang menjadi keniscayaan zaman dari para penggemarnya dan beberapa pendengar musik di luar sana. Ketika Neck Deep berpakaian dan melakukan hal yang relevan di era ini, otomatis para pendengar berumur aktif dan juga normies pun terpikat oleh bagaimana citra “we’re just like you people” yang Neck Deep emban. Lewat semua sesi pemotretan yang fashionable dan berbagai sebaran varian meme di dunia maya yang berkaitan dengan band tersebut membuktikan bahwa Neck Deep memang lahir di era yang tepat. Proses yang kurang lebih mirip ketika Blink-182 memulai kiprah arus utamanya di paruh akhir masa keredupan boyband. Momen tersebut terjadi ketika para konsumen musik umur aktif saat itu sedang jengah akan tren musik dance pop yang merajalela di berbagai tangga musik internasional dan membutuhkan hiburan baru yang lebih “memberontak”. Dengan musik pop punk yang lebih youthful dibandingkan dengan karya milik Green Day era itu, Blink-182 berhasil menembus retakan tren tersebut dengan tepat dan memulai revolusi pop punk-nya sendiri.

Salah satu meme Neck Deep yang tersebar di internet (via knowyourmeme.com)

Sementara untuk urusan musikalitas, saya rasa akan selalu ada pro dan kontra. Seperti yang sebutkan di awal tulisan ini, “selera” adalah dalih utama untuk aspek yang satu ini. Tapi melihat dari survey yang Dochi lakukan di Twitter tentang opini publik soal Neck Deep, rasanya hipotesis saya  mengenai keniscayaan zaman sedang berpihak kepada Neck Deep sudah cukup menjawabnya. Baik buruk karya yang Neck Deep telurkan akan tetap terasa relevan sampai nanti siklus tren pop punk ini akan berputar. Dan kelak sampai akhirnya akan ada lagi gebrakan baru yang menjambak perhatian para normies untuk berbondong-bondong menganggapnya sesuatu yang keren. Ironisnya, gebrakan baru tersebut bisa saja sesuatu dari “cara lama”. Lihat saja fenomena city pop revival yang tiba-tiba digemari oleh khalayak ramai. Padahal musik tersebut sudah sempat mati hampir dua dekade lamanya. Mau bagaimana lagi, tren memang aneh dan menyebalkan.

Untuk kasus atensi publik terhadap Neck Deep ini, rasanya hal tersebut harus dipahami dengan pikiran terbuka dan dada yang lapang. Tren pop punk modern ala Neck Deep memang sedang menaungi band-band dari segmen tersebut. Apabila kamu menyukainya, berarti kamu tinggal menjadi konsisten terhadap tren yang kamu anggap sebagai identitas tersebut. Dan untuk kamu yang tidak sepakat terhadap fenomena kaliber Neck Deep dan tetek bengeknya, mungkin akan lebih baik untuk mengalihkan fokus dan energimu terhadap hal yang kamu sukai. Karena akuilah, tren itu sulit dilawan. Terutama ketika kamu kalah jumlah. Jadi lupakan tren itu dan tetaplah konsisten akan hal kesukaanmu. Well, that’s a note to self as well.

***

prablematic

Picking Teengenerate over Shonen Knife. Enjoying Monty Pythons

3 thoughts on “Selit Belit Atensi Massa Akan Neck Deep

  1. gue pun merasakan kalo for some of reason neck deep super overrated apalagi kalo lagu December mulai digaungkan di gigs, walaupun ya itu kayak andalan aja gitu rasanya, sampe ada celetukan no neck deep no party, tapi mudah-mudahan bisa jadi awalan normies utk explore lebih lagi di genre ini.

Leave a Reply