Punk Rock Would Never Be The Same ; RVIVR

Untuk first timer, dijamin sih bakalan bingung untuk baca nama band ini disamping penulisannya yang cukup cutting edge, tapi memang band ini diakui juga memiliki political view yang cutting edge. Oke bandnya sendiri dibaca Reviver yang ditulis RVIVR. Agaknya hal ini memiliki joking part tersendiri di kepala saya ketika ingat si Mika The Rang Rangs sempet kebingungan untuk membaca nama bandnya sendiri haha!
Jujur kali pertama saya mengetahui band ini adalah ketika band ini announce untuk tur Asia Tenggara di tahun 2014 dan kebetulan waktu itu We.Hum Collective yang menjadi PIC untuk inisiasi gig di Jakartanya. Yes that time on, saya mulai coba denger-denger tentang band ini. On my lifetime, bands from DIY punk scene is never stopped to impress me about how they sounded and having a political view 🙂 Ya salah satunya RVIVR ini yang cukup mengejutkan juga karena tanpa sadar atau tidak sadar memang skena Orgcore didominasi kultur maskulinitas dan mereka tampil sebagai figur queer di dalam scene Orgcore itu sendiri.

Flyer Tur RVIVR di Bandung

Kalo ngomongin tentang band ini terbentuk awalnya bisa ditarik dari cerita gitaris dari band ini, Mattie Jo Cannino, yang sebelumnya tergabung dalam unit Orgcore Long Island, Latterman, yang kemudian pindah ke Olympia. Di sana dia bertemu dengan Erica Freas dan sempet membentuk Hooky, unit musikal ini tidak berumur panjang dan hanya menghasilkam 1 mini albu. Setelah Hooky, Erica dan Matt Cannino pun merekrut Kevin Ransberry di posisi drum. Setidaknya ini merupakan posisi ‘stabil’ dari RVIVR sendiri walaupun di posisi bass player sendiri band ini dikenal berganti-ganti playernya, mulai dari Alanna Paoli sampai di tur Asia terakhir mereka merekrut Lou Hanman (Caves/Mikey Erg/Worriers).
Agaknya statement politik yang mereka tegaskan dari musik mereka sebenarnya tidak membuat pelaku skena baik-baik saja, dalam pengakuan mereka sendiri sebenarnya being a queer di dalam skena orgcore sendiri bukan hal yang mudah karena banyak dari pelaku skena sendiri masih meanggungkan nilai patriatki dan maskulinitas dan hal tersebut sering menjadi gesekan dari audiens RVIVR dengan band itu sendiri. Terbukti dari kiprah 9 tahun mereka di skena, RVIVR sendiri telah membuka sebuah wacana untuk diversity di skena orgcore itu sendiri yang didominasi oleh pelaku straight sex untuk kaum-kaum queer/non-binary. Pun di samping tampil dengan political statement mereka, RVIVR merupakan sebuah band yang dikenal menerapkan ‘safe space’ di dalam gig mereka. Sebenarnya ‘safe space’ sendiri merupakan sebuah hal yang positif menurut saya pribadi karena di dalam gig itu sendiri taking care each other tuh emang harus dilakukan demi menciptakan kondisi gig yang lebih positif. Memang perlu diakui sistem skena yang suportif untuk semua orang merupakan hal yang harus disadari bersama karena skena itu sendiri sebenarnya diciptakan bukan untuk kaum pria ataupun wanita saja, tapi ada kaum minoritas lainnya yang tidak mungkin kita lupakan eksistensinya.

RVIVR Live at The Chris Gethard Show

Secara musikalitas sendiri, RVIVR tampil sebagai band melodic hardcore/melodic punk yang mungkin apabila kita menarik garis merahnya sendiri apabila anda cukup into dengan sound-sound band yang sering direview di Punknews ataupun bermain di The Fest seperti Lawrence Arms, Hot Water Music, Leatherface, sampai Dillinger Four, maka insya Allah mungkin anda akan hook up dengan musiknya RVIVR itu sendiri. Selama 9 tahun eksistensi, RVIVR telah menghasilkan 5 mini album dan 3 full length. Erica Freas bersama teman-teman mereka satu squat di Olympia dikenal juga mendirikan sebuah label DIY bernama Rumbletowne Records yang juga dikenal merilis album-album dari RVIVR dan beberapa band lokal seperti Divers, Hot Tears, Sharkpact, dan lain sebagainya. Mungkin dari beberapa full length dari RVIVR sendiri, everyone’s favorite sih emang di album “The Beauty Between” dan diakuin juga ketika album ini rilis mereka menyatakan bahwa “The Beauty Between” merupakan album yang diciptakan dari titik kulminasi kreativitas dan mood yang pas daru band ini. Total empat belas lagu ditampilkan di dalam full length ini, RVIVR menampilkan sound punk rock ala Hot Water Music-Leatherface dipadu lirik political nan puitis. Status terkini untuk band ini pun sebenarnya bisa dibilang lagi semi-semi bubar ya, maksudnya reunian kalo ada di acara tertentu doang kaya The Fest gitu. Hal ini disebabkan juga karena Erica Freas sendiri terakhir berkabar kalau dia tinggal di Inggris dan bekerja sebagai Public Relation di Specialist Subject Records.
Karena Rumbletowne Records sendiri statusnya sudab inactive, katalog RVIVR secara digital di
-takeover oleh Don Giovanni Records, mungkin anda sendiri mengenal label ini via beberapa album dari band-band seperti The Ergs, Full of Fancy, ataupun Laura Stevenson. Untuk format fisiknya sendiri, album-album RVIVR sendiri kalau sepengamatan wartna Knurd masih banyak dijual di discogs dan beberapa site dari label-label yang merilis album mereka seperti One Brick Today, Eagle Beaver, sampai Yoyo Records. Oh iya gue juga sempet liat kaset tur Southeast Asia mereka dijual di disc union Shinjuku dijual seharga rupiahnya tuh 300 ribuan haha!

Sites :
Spotify
Bandcamp
Instagram

financialpowerbomb

Ikan Cupang Baju Kebaya Semoga Pop Punk Selalu Jaya JAYA! JAYA! JAYA!

Leave a Reply