Punk, Penyihir, dan Perkedel: Obrolan Ringan Bersama John ‘Jughead’ Pierson

John Pierson alias Jughead mungkin statusnya tidak semahsyur Ben Weasel ketika topik obrolan soal Screeching Weasel disajikan di sebuah arus percakapan. Namun Pierson merupakan salah satu sosok yang seringkali dianggap sangat krusial dalam perjalanan kiprah band punk rock seminal asal Chicago itu. Penobatan sekonyong-konyong yang berkutat di ruang lingkup gorong-gorong sirkuit punk rock tersebut tentu bukan tanpa alasan. Pierson dikenal sebagai salah satu personil Screeching Weasel yang memiliki kharisma unik tersendiri. Entah itu lewat gaya permainan gitarnya yang inovatif (solo gitar satu senar canggung nan bertenaga yang menghiasi banyak lagu Screeching Weasel dan akhirnya kelak diimplementasikan oleh Blink-182 di tiga album pertamanya) mau pun dari perspektif nalarnya akan berbagai topik yang sering ia utarakan lewat podcastnya, Jughead’s Basement, dan juga beberapa tulisan publikasinya.

Karena kebetulan sudah pernah berkorespondensi dengan beliau beberapa waktu lalu, saya pun iseng mengajaknya untuk mengobrol ngalor ngidul sebagai dalih “wawancara” kali ini. Banyak hal yang menarik dari perspektif dia ketika obrolan berlangsung. Mulai dari tanggapan yang agak serius soal literasi bagi punk rocker sampai pengalamannya bekerja sebagai “penyihir” di Jepang. Ah iya, maafkan kalau “wawancara” kali ini tidak terlalu banyak bahasan soal musik dan tidak sistematis 5W1H. Namanya juga obrolan ringan. Selamat membaca.


Ada hal yang menarik dari sosok pak Jughead bagi saya. Bapak tuh selain musisi punk rock yang handal, ternyata seorang penulis yang mumpuni juga. Soalnya saya baca beberapa tulisan bapak di berbagai publikasi dan juga di blog pribadi rasanya semua informasi yang diberikan masuk akal dan dipikirkan dengan matang. Jadi penasaran, menurut bapak kalau orang yang berkutat di ranah punk (rock) pentingkah untuk menjadi terliterasi?

Lumayan rumit sebetulnya. Karena definisi “literasi” pun sepertinya sudah berubah. Gini deh, saya menyukai proses membaca. Karena lewat kegiatan itu hasil akhirnya pasti akan selalu memberikan efek rangsangan yang baik untuk imajinasi dan intelegensia seseorang. Tapi kenyatannya, saya sendiri pun sebetulnya lagi jarang baca sekarang. Jadi kalau gitu apakah saya kurang terliterasi?

Saya mendengarkan banyak podcast dan juga menonton banyak dokumenter. Bahkan ketika mengobrol sehari-hari pun saya kadang menyerap banyak hal. Jadi saya rasa proses-proses tersebut sudah bisa mengimbangi konteks yang sama seperti membaca. Dengan konteks tersebut, saya rasa pemahaman itu penting bagi seluruh umat manusia, tidak hanya para punk rockers. Terutama untuk mereka yang ingin mempunya kehidupan sosial yang memerlukan komunikasi dengan banyak orang dengan latar belakang berbeda.

Sama rumitnya dengan konsep “terpelajar” yang terlalu dikekang oleh konsep ajaran sekolah. Saya rasa untuk menjadi “terpelajar” tidak memerlukan standarisasi tertentu ketika orang tersebut mempunyai inisiatif dan rasa ingin tahu yang tepat. Dan untuk seorang punk rocker, dia pun seharusnya mempunyai sudut pandang yang lentur seperti seniman. Yaitu untuk menjelajahi dunia di sekitarnya dan merespon semua hal yang bermunculan dengan bermacam cara. Karena sekarang banyak hal yang telah berubah dan kita semua harus bisa menyesuaikan diri.

Menarik pak. Nah menyambung soal dunia, pak Jughead ingat enggak pertama kalinya ada orang di luar US yang berkoresponden dengan bapak lewat musik/karya yang pak Jughead buat?

 Pertama kali terjadi itu ketika dulu Ben (Weasel) masih kerja di pom bensin 24 jam, dia menerima surat dari Inggris. Surat itu dikirim oleh sebuah perusahaan di sana yang ingin membeli hak cipta album pertama Screeching Weasel dan dirilis kembali di sana. Ternyata itu efek dari lagu kita yang diputar di program radionya John Peele (DJ radio legendaris di Inggris). Itulah pengalaman pertama kali ada orang luar negeri yang menyadari eksistensi karya saya.

Dan lucunya, karena di paruh awal perjalanan Screeching Weasel Ben memutuskan untuk berhenti tur lebih cepat, pengalaman saya untuk berkorespondensi langsung dengan orang luar negeri malah lebih sering lewat surat menyurat. Jadi ketika saya akhirnya punya kesempatan untuk bepergian ke Asia, popularitas kami saat itu malahan sudah surut. Tapi setidaknya sekarang saya punya banyak teman baik di Asia yang masih berkutat di punk rock.

Jughead (kanan) ketika bermain bersama Screeching Weasel (foto: Johnny Puke)

Oh iya pak, maaf nih saya ada pertanyaan agak klise. Boleh diceritain enggak tentang awal terbentuknya The Mopes? Kayaknya yang bakal baca obrolan kita perlu tahu tentang The Mopes (band punk rock “supergrup” yang bernaung di Lookout! Records pada tahun 1999 silam)

Kalau berbicara soal The Mopes, saya harus membahas Dan Vapid (personil Screeching Weasel, Riverdales, The Methadones) terlebih dahulu. Dia adalah orang yang selalu menulis lagu, selalu menepuk-nepuk lututnya layaknya seperti bermain drum, dan selalu tersenyum ketika bermain gitar di pojok ruangan. Jadi rasanya sudah menjadi hal yang alami baginya untuk terus bermain musik secara iseng bersama teman-temannya ketika masa “santai” di beberapa proyek bandnya sedang terjadi. Saya ingat dia dan B-Face (bassist The Queers saat itu) sering sekali minum bersama dan menulis lagu-lagu konyol yang menyenangkan.

Dulu ketika saya masih aktif menjalankan Panic Button Records, kami selalu bermain gitar bersama dan bersenang-senang. The Mopes pun akhirnya terbentuk atas dasar kesenangan semua orang di dalamnya. Bahkan ketika rekaman pun, semua idenya bukanlah ide yang matang. Tadinya setelah album Accident Waiting To Happen, The Mopes akan diproyeksikan sebagai band “sungguhan”. Tapi pelan-pelan ada beberapa hal yang berubah dan sampai akhirnya band tersebut malah menjadi band lain yang bernama The Methadones. Ketika itu terjadi, saya pun mengundurkan diri.

Bapak sempat kerja jadi “penyihir” ya di sebuah taman bermain terkenal di Jepang. Rasanya nasib kita ketika menjalani pekerjaan itu bakalan ada beberapa yang sama. Karena saya pun dulu pernah bekerja di sebuah theme park. Ah berbicara soal pekerjaan “penyihir” itu, ada kesulitan yang bapak alami ketika bekerja di posisi itu? Mungkin dari segi bahasa atau bahkan kendala lain?

Saya sangat menyukai pekerjaannya. Tapi pada akhirnya theme park adalah sebuah bisnis besar dengan mentalitas korporasi. Tentunya hal tersebut adalah musuh terbesar bagi kreatifitas. Mungkin konsep tersebut memang betul adanya untuk banyak theme park di dunia, tapi rasanya theme park di Jepang punya jalur yang berbeda untuk proyeksi mentalitas tersebut: ketepatan dan kesempurnaan.

Yang saya rasakan ketika mendapatkan arahan dari atasan saya di sana adalah sesuatu yang banal. Mengingat bahwa para atasan di sana memang bukan berasal dari dunia akting dan teater. Jadi itu hal yang lumayan membuat saya yang masih menjunjung tinggi integritas teatrikal jengah ketika bekerja di Jepang. Hal tipikal macam apa yang menurut saya bagus dan apa yang menurut atasan saya bagus.

Tapi karena gaji yang saya terima di sana berjumlah bagus, mau tidak mau saya harus berkompromi sampai saya mendapatkan apa yang saya butuhkan. Dengan pemahaman tersebut, saya akhirnya sempat bekerja enam kali di theme park yang berlokasi di Osaka tersebut.

Sebelum jadi “penyihir”, pernah kerja di bidang apalagi pak Jughead?

Selama 20 tahun tergabung di Screeching Weasel, saya biasanya yang menjadi akuntan, “menggaji karyawan”, membayar pajak, dan merencanakan tur di band tersebut. Ketika itu, bisa dibilang saya merasa nyaman dengan “pekerjaan” tersebut selama saya masih bisa membuat karya. Saya pun lebih menyukai pekerjaan yang tidak perlu dipikirkan ketika saya sampai di rumah selepas bekerja. Salah satunya saya sangat menikmati masa ketika saya masih bekerja di sebuah toko buku.

Jughead bersama Even In Blackouts (dokumentasi istimewa)

Mari kembali ke musik. Pak Jughead sebelumnya pernah mendengar informasi atau kiprah scene punk rock di Asia selain Jepang?

Belum pernah! Saya ingin sekali tahu lebih banyak soal apa yang terjadi di Indonesia. Sama halnya ketika saya menjadi sangat tertarik dengan band-band asal Belanda, Italia, Austria, dan Costa Rica ketika saya mengunjungi tempat-tempat tersebut. Saya tidak masalah ketika ada ajakan dari sebuah band untuk mengisi beberapa lagu mereka di setnya, lalu memainkan beberapa lagu milik saya dan sesudahnya bisa bercengkerama bersama sambil mempelajari budaya baru. Itulah yang saya ingin lakukan. Lucunya, kakak saya bekerja sebagai engineer di Bali selama 15 tahun tapi saya belum pernah berkesempatan untuk menginjakkan kaki di sana!

Berbicara soal Jepang, bapak pernah tinggal di sana cukup lama dikarenakan pekerjaan “penyihir” tadi. Selama bapak masih di sana, saya sering melihat unggahan beberapa teman internet saya yang bercengkerama dan berkegiatan bersama bapak. Mengingat itu, apa yang bapak lihat soal pola budaya punk rock di Jepang sana? Apa yang menurut bapak membedakan pola punk rock Jepang dengan negara barat lainnya?

Saya rasa Jepang memang masih selalu berjuang dengan urusan orisinalitas kalau di konteks musik. Orang-orang di sana rela mengorbankan identitasnya demi menjadi idola mereka. Tapi ketika mereka melakukan itu, justru hasilnya malah WOW! Seperti band funk yang saya tahu, Tacosan! Band-band seperti So-Cho Pistons dan The Wimpy’s pun menarik bagi saya pribadi. Mereka mampu memainkan persis elemen-elemen musik dari band barat dengan tepat dan jadinya malah memberikan identitas baru bagi mereka.

Saya pernah baca di sebuah artikel kalau pak Jughead ini sempat rindu makan popcorn ketika tinggal di Jepang. Karena itu saya berasumsi kalau pak Jughead mungkin suka makanan olahan jagung lainnya. Nah, saya akan memberikan tiga foto makanan olahan jagung dari Indonesia dan Pak Jughead harus memberikan impresinya terhadap makanan-makanan tersebut ya. Oke yang pertama:

Perkedel

Ah saya pernah mencoba ini. Makanan yang digoreng, enak dan sekaligus berbahaya. I love it. Saya suka makanan yang bisa dicocol ke dalam saos. Oke, foto ini membuat perut saya keroncongan sekarang.

Tinutuan

Saya tidak terlalu suka olahan sup atau bubur. Intinya, saya kurang suka makanan yang bentuknya encer. Tapi kalau melihat foto ini, saya lumayan penasaran ingin mencobanya. Lalu saya akan berkonsentrasi untuk tidak terlalu fokus pada teksturnya.

Talam

Saya tidak suka olahan jagung yang manis. Tapi saya suka kelapa. Sepertinya lidah saya akan kebingungan ketika mencoba makanan yang satu ini.

Ada hal yang pak Jughead ingin disampaikan untuk pembaca tulisan obrolan ini?

Saya ingin memberitahukan kalian semua tentang dua band yang saya sedang gawangi sekarang. Even In Blackouts, band yang paling lama saya pernah gawangi. Band ini memiliki vokalis perempuan terbaik yang akan kamu dengar. Plus musiknya sangat menarik dan akan sulit kamu kategorikan. Tentunya saya menyukai hal tersebut meski agak sulit untuk “menjualnya” ke kalangan punk rocker.

Dan juga band “hardcore” terbaru saya, The Mitochondriacs yang tujuan awalnya memang ingin bermain dengan “cara lama”. Kalau kamu suka era Boogada dari Screeching Weasel, kamu akan menyukainya. Lewat band ini, semua keuntungan finansial dari musik kami akan didonasikan ke beberapa lembaga kemanusiaan yang kami kenal.

prablematic

Picking Teengenerate over Shonen Knife. Enjoying Monty Pythons

Leave a Reply