Memahami Trallpunk Bersama Martin Hällgren dari De Lyckliga Kompisarna

Tenang, istilah trallpunk bukan cuma istilah genre musik mengada-ada yang biasa dilontarkan oleh para “pemain band” yang kelimpungan sendiri ketika diminta untuk menjelaskan musik yang mereka mainkan. For your information, trallpunk adalah subgenre dari punk rock atau melodic hardcore yang lahir di Swedia pada awal tahun 90-an silam. Secara musik sebetulnya enggak terlalu beda dengan akar melodic punk/hardcore-nya, hanya saja trallpunk mempunyai identitas yang lebih geografis: harmoni vokalnya sangat kental akan nuansa nyanyian tradisional Skandinavia dan seluruh liriknya digubah menggunakan bahasa Swedia.

Berbicara soal trallpunk, citra Trallpunk di kancah punk rock Swedia dulunya dianggap norak. Lantaran di awal kemunculannya di tahun 80-an silam, banyak band-band hardcore punk di sana menganggap band-band trallpunk yang mempunyai karakter vokal yang lebih catchy bukanlah band “punk sungguhan”. Maklumlah, tahun 80-an di Swedia adalah tahun kejayaan hardcore punk. Jadi opini mereka sangat didengarkan oleh para pelaku dan penikmat scene di dalamnya. Dipikir-pikir mirip kayak fenomena pop punk yang dianggap hina sama para punk purist di sini ya. Just saying.

Nah karena saya orangnya iseng dan katanya “suka pansos” (at least that’s what some people say about me, padahal mereka juga kena imbas positif dari pansos-an saya) ke beberapa sosok musik idola saya, saya pun memutuskan ngobrol langsung sama salah satu pelaku hidup trallpunk yang bisa dianggap sebagai salah satu sosok vital bagi perkembangan trallpunk sampai hari ini. Dia adalah Martin Hällgren, punggawa dari band trallpunk legendaris yang bernama De Lyckliga Kompisarna (DLK).

Mart dari De Lyckliga Kompisarna (via facebook.com)

Berikut obrolan singkat saya bersama Mart perihal trallpunk, silahkan disimak!

Halo pak Mart, beneran enggak apa-apa nih saya mau ngobrol dikit terus ditranskrip buat jadi tulisan wawancara di knurd.club?

Enggak apa-apa dong, sebuah kehormatan malahan

Oke deh kalau begitu. Langsung aja deh ya. Menurut pak Mart sendiri sebagai pelaku di scene trallpunk, apa sih definisi sebenernya trallpunk? Dari mana asal muasalnya?

Trallpunk itu dasar katanya “att tralla”, yang artinya berdendang tanpa lirik. Kalau maknanya digeser jadi kata benda yang konteksnya musik, “trall” bisa berarti melodi. Soalnya ada juga padanan makna “trall” lain yang artinya jadi “kebiasaan membosankan” atau “lantai kayu”. Jadi istilah trallpunk itu buat punk rock yang punya aspek vokal yang melodic atau harmonis.

Owalah paham paham. Terus sebenernya apa sih parameter sound punk rock supaya bisa masuk kategori trallpunk? Apa sih yang bikin trallpunk unik dibanding subgenre punk rock yang lain?

Sedikit cerita dulu deh ya. Sebenernya di tahun 90-an dulu, saya sempet menganggap kalau ada orang yang melabeli musik saya (bersama DLK) sebagai trallpunk itu sebuah hinaan. Soalnya waktu itu di Swedia, belum lumrah band-band punk rock bermain lebih melodic. Malahan ada juga anggapan kalau band trallpunk itu semacam borok dan bukan band punk rock beneran. Gara-gara itu, tidak banyak orang yang memperdulikan DLK dan panggung kami selalu sepi penonton.

Mart di tahun 80-an (via facebook.com)

Tapi sebetulnya alasan kami memainkan musik punk rock ala DLK sekarang hanya karena kami memang suka bereksperimen dengan nada-nada harmonis. Enggak dipungkiri kalau kami memang suka band-band seperti Bad Brains, Dead Kennedys, dan Bad Religion. Tapi kami menggabungkan elemen-elemen nyanyian tradisional, lick-lick gitar metal jadul, sampai pola permainan gitar klasik. Mungkin itu semua yang akhirnya membuat sound trallpunk menjadi unik dan berbeda dibandingkan melodic punk yang terdengar lebih global.

Hmmm menarik. Kalau awalnya memang trallpunk adalah sesuatu yang “hina”, kapan akhirnya genre tersebut mulai diakui dan menjadi disukai para pendengar musik di Swedia?

Pertanyaan kamu susah banget. Sepengetahuan saya mungkin ada beberapa hal yang membuat trallpunk akhirnya bisa mendobrak selera musik publik di era itu. Mungkin salah satunya adalah ketika Swedia menghadapi krisis finansial di tahun 90-an lalu. Banyak orang yang kehilangan pekerjaannya dan mencari hiburan yang bisa meluapkan kekesalan mereka akan soal itu. Mungkin itu awalnya bagaimana scene punk rock di Swedia mulai bergeliat di tahun itu, banyak pengangguran yang mendengarkan dan bermain musik punk rock.

Ah tentunya kehadiran Nirvana yang membuat punk rock populer kembali juga sangat berpengaruh terhadap persepsi orang Swedia mengenai punk rock. Kalau dari pengalaman saya sendiri, sepertinya orang-orang mulai peka akan keberadaan trallpunk ketika lagu kami, “Ishockeyfrisyr”sering diputar di program radio yang membahas olahraga. Lagu itu memang bercerita soal seorang pemain ice hockey yang punya rambut mullet.

Mungkin juga bisa karena lagu itu pernah dipakai sebagai materi lawakan seorang komedian di TV Swedia. Ah itu semua cuma dari sepengamatan saya saja.

Video klip dari “Ishockeyfrisyr”

Sebagai sosok yang terbilang aktif  dan punya banyak band di kancah trallpunk, boleh diceritain enggak bagaimana awalnya pak Mart bisa terjun ke trallpunk?

Ah saya tidak sepenting itu di trallpunk. Saya hanya seorang music geek. Saya memang sempat bermain di beberapa band sebelum akhirnya terjun ke kancah trallpunk di tahun 80-an akhir. Saya sering menonton gigs di Ultrahuset (venue musik di daerah Handen -red) dan Vitahuset (venue musik di daerah Taby -red). Selain bermain di beberapa band, saya sering mengorganisir gigs di daerah tersebut. Ya bagaimana lagi, saya tidak suka sepakbola dan kemampuan bersosialisasi saya tidak terlalu bagus. Menemukan musik adalah hal terbaik di hidup saya.

Eh pak ingat enggak, kita pernah ketemu dan ngobrol waktu band saya manggung di Jepang. Saya ingat setelah saya pulang ke Indonesia, saya masih lihat beberapa postingan teman saya di sana bersama bapak sekitar beberapa minggu. Gimana tuh awalnya bapak bisa sampai berjejaring sama teman-teman Jepang?

Inget dong! Kalau kenalan sama teman-teman Jepang sepertinya sekitar tahun 2013 ketika saya datang ke sebuah acara punk rock cruise di Laut Baltic. Di situ saya bertemu dengan Hiroshi dari band 4ZUGARA. Kami ngobrol panjang lebar soal musik dan ternyata dia adalah fans DLK. Karena waktu itu kondisi kami sama-sama sedang mabuk, ajakan dia untuk menghelat tur Jepang DLK rasanya hanya ngawur. Tapi beberapa tahun kemudian dia dan Samesi (personil 4ZUGARA) benar-benar menghubungi saya untuk mengajak DLK tur ke Jepang. Sejak saat itu, saya baru menyadari bahwa musik DLK ternyata memang ada yang mendengarkan di luar Swedia. Saya sangat berterima kasih kepada mereka!

Band sellout, Saturday Night Karaoke bersama Mart ketika di Jepang (dokumen pribadi)

prablematic

Picking Teengenerate over Shonen Knife. Enjoying Monty Pythons

Leave a Reply