Paradoks Selling Out di Ranah Punk Rock

Sepertinya bukan rahasia lagi kalau selling out masih dianggap sebagai dosa besar yang katanya haram hukumnya dilakukan oleh para pelaku kancah punk rock. Konon, aturan tak tertulis itu masih sering dijunjung tinggi oleh beberapa pelaku dan kritikus di ranah tersebut sampai hari ini. Ada yang bilang bahwa selling out adalah suatu penghinaan terbesar bagi etos do-it-yourself dan konsep eksklusivitas pada punk rock yang telah dibentuk sejak kemunculannya di tahun 70-an silam oleh para pelakunya di era tersebut.

Berbicara selling out di punk rock, sepertinya pembahasan ini harus dirunut kepada satu sosok krusial yang terkenal militan mengenai hal tersebut dan seringkali menjadi panutan para puritan punk rock. Dia adalah Tim Yohannan, pemimpin redaksi dari majalah punk rock legendaris Maximum Rock ‘N Roll.

Tim Yohannan (belakang) ketika siaran di Maximum Rock ‘N Roll radio (via maximumrocknroll.com)

Sebelum memulai radio dan majalah yang terkenal akan stand-point-nya soal punk rock tersebut di tahun 70-an akhir, Yohannan adalah seorang penganut paham sayap kiri yang super sosialis. Sampai akhirnya ketika dia mengenal punk rock, dia pun mengaplikasikan pandangan tersebut ke dalam etos punk rock yang dia emban ketika menjalankan Maximum Rock ‘N Roll.

Yohannan seringkali dianggap terlalu “sulit” dan sangat keras ketika mengulas sebuah rilisan atau membahas sebuah band –terutama yang bernuansa punk rock. Dia meyakini bahwa band punk rock adalah band yang bebas dari jeratan korporasi yang bertujuan untuk mengkomoditaskan punk rock menjadi mesin pencetak uang di ranah industri musik arus utama. Mau itu berbentuk kerjasama kontrak label atau pun distribusi. Bahkan di pertengahan tahun 90-an ketika Nirvana dan Green Day tiba-tiba sukses dan mendapatkan banyak pemasukan uang berkat diboyong major label, Yohannan memutuskan untuk memberikan secara gratis banyak rilisan yang ada di lemari arsip Maximum Rock ‘N Roll kepada khalayak ramai. Hal itu dilakukan karena dia tidak mau terafiliasi sama sekali dengan sistem korporasi yang mengatasnamakan punk rock. Selain itu, Yohannan pun mulai mengetatkan kebijakan redaksinya di rubrik kolom ulasan rilisan bahwa dia hanya akan menerima dan membahas rilisan musik yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan label mayor.

Salah satu edisi Maximum Rock ‘N Roll yang membahas soal fenomena sellout (via maximumrocknroll.com)

Konsep sellout tersebut tentu menjadi pro dan kontra di ranah punk rock pada era tersebut. Ada yang menganggap bahwa konsep yang Yohannan lakukan adalah memang cara yang terbaik untuk membuat punk rock tetap bersih dari intervensi pihak korporat, ada pula yang menganggap bahwa Yohannan terlalu berpikiran sempit tentang apa itu punk rock dan malah membuat ekosistem di dalamnya menjadi kacau balau. Akan tetapi, semua persepsi itu terasa membingungkan ketika bahwa pada kenyataannya Yohannan-lah yang selalu menjadi sosok konseptor sekaligus eksekutor dari pergerakan sporadis punk rock yang terjadi di California dan kelak akhirnya meninggalkan punk ethos legacy yang menginspirasi berbagai tempat di belahan dunia lainnya untuk memulai scene punk rock-nya sendiri pada paruh awal tahun 90-an silam.

Pemahaman akan sellout yang Yohannan gembar-gemborkan tentunya menyebar dengan baik di ekosistem terdekatnya, tak terkecuali di sebuah ekosistem venue “berkesenian-serba-guna” yang Yohannan pun turut andil dalam penginisiasiannya, Gilman Street 924. Venue musik legendaris di bilangan California tersebut punya satu aturan ketat yang mengharuskan bahwa tidak boleh ada band mayor label yang boleh bermain di dalamnya.

Konyolnya, aturan tersebut akhirnya tercoreng oleh salah satu band veteran Gilman sendiri, yaitu Green Day. Mereka “diusir” dari Gilman beberapa minggu setelah album mayor perdana mereka, Dookie dirilis dan tentu saja alasannya karena Green Day akhirnya dianggap band “pengkhianat” karena memilih untuk berafiliasi dengan mayor label. Dan itu adalah hal yang haram di ruang lingkup Gilman. Walhasil, mereka pun tidak boleh menginjakkan kakinya kembali ke tempat tersebut. Momen tersebut diabadikan oleh Green Day lewat lagu “86” yang terdapat di album sophomore mereka, Insomniac.

Ironisnya, Green Day adalah band yang tumbuh besar di Gilman sejak mereka awal terbentuk. Dan pilihan mereka untuk masuk Reprise Records pun sebetulnya masuk akal dan label independen mereka di saat itu pun, Lookout! Records, tidak bermasalah sama sekali dengan keputusan trio poppy punk rock tersebut. Malahan Larry Livermore (pemilik Lookout! Records saat itu) sangat menganjurkan Green Day untuk menjalin kerjasama dengan label mayor dikarenakan demand pendengar musik saat itu akan rilisan Green Day sudah melampaui kapasitas operasional produksi Lookout! Records dan satu-satunya cara agar rilisan mereka bisa diproduksi dan didistribusikan semasif adalah dengan bekerja sama dengan label mayor.

Green Day ketika masih bisa bermain di Gilman (via tumblr.com)

Berbicara soal Green Day, saya jadi teringat akan satu hal yang banyak kaum punk puritan tidak pernah mau bahas ataupun akui mengenai fenomena masuknya Green Day ke label mayor. Yakni fenomena masuknya Green Day ke label mayor merupakan portal yang sangat besar bagi banyak orang untuk mengenal punk rock dan memulai pergerakannya sendiri. Memang betul adanya Green Day pulalah yang akhirnya membukakan pintu untuk band-band pop-punk/punk rock/emo “sejuta umat” (baca: Blink-182, Fall Out Boy, My Chemical Romance) menjadi bintang besar di era sekarang, tapi berkat Green Day jugalah banyak band-band punk rock “bertanggung jawab” lahir dan berkembang pesat di scene-nya masing-masing. Band-band macam The Ergs!, Bomb The Music Industry, bahkan FIDLAR pun bisa terbentuk karena momen perkenalan awal mereka dengan punk rock adalah lewat Green Day.

The Ergs!, salah satu band yang terinspirasi Green Day (via theergs.bandcamp.com)

Untuk konteks yang bersifat lokal, mari kita ingat momentum ketika Superman Is Dead merilis Kuta Rock City di bawah naungan Sony Music Indonesia yang merupakan salah satu label mayor raksasa di Indonesia. Banyak polemik yang muncul ketika momentum tersebut terjadi. Salah satunya adalah ketika Superman Is Dead mendapatkan kecaman dari berbagai scene punk rock di Indonesia dan mencap mereka sebagai sellout karena telah mengkhianati scene yang telah membesarkan mereka secara underground. Belum lagi beberapa kericuhan yang meliputi konser mereka di berbagai tempat yang dilandasi oleh kebencian beberapa oknum terhadap sebuah band punk rock yang dianggap sellout. Patut digarisbawahi bahwa kejadian yang dialami oleh Superman Is Dead ini terjadi di tahun 2003. Jauh dari masa keemasan punk rock dan fenomena bombardir mayor label internasional yang asal-asalan mengontrak band punk rock untuk dieksploitasi seperti yang terjadi di tahun 90-an silam.

Bahkan sampai hari ini pun konsep sellout masih hangat ramai diperbincangkan di berbagai scene musik lokal maupun luar. Mungkin pemantiknya sudah berbeda, tapi perbincangan akan siapa-yang-sellout-dan-yang-bukan masih terus berdengung ketika ada satu band dari ranah punk rock (atau alternatif) bisa menembus pangsa di kolamnya sendiri dan berhasil diterima di kolam lain. Atau yang paling klasik, selalu ada polemik ketika sebuah band yang datang dari arus punk rock (atau genre apapun yang terbilang edgy dan punya latar belakang yang beririsan dengan konsep do-it-yourself) bisa sukses secara komersil atau menghasilkan uang dari apa yang mereka lakukan. Tapi ada juga beberapa pihak yang menganggap bahwa tidak ada yang salah dengan menghasilkan pemasukan finansial dari bermain musik atau menghasilkan musik. Lumayan pelik sebetulnya perihal sellout ini.

Beberapa celotehan warganet perihal selling out di ranah punk rock (via twitter.com)
Salah satu fanletter lokal yang membahas perihal selling out (Popcore Zine, 2017)

Tapi untuk memberikan perspektif lain, saya pun punya versi konsep sellout saya sendiri – yang sebetulnya hasil pemrosesan lebih lanjut akan konsep sellout dari pemikiran Henry Rollins –, yakni sebuah band atau musisi layak dikatakan sellout (berkonotasi negatif) ketika membuat karya atas dorongan pihak lain atau kepentingan klise dan sama sekali tidak menikmati proses kreatifnya. Ya, mungkin saja mereka mendapatkan banyak uang dari hasil karya yang mereka buat demi selera pasar yang menyebalkan. Mungkin juga mereka menikmati pamor berkat suksesnya karya mereka yang ternyata dibuat tanpa hati dan insting manusiawi mereka di dalamnya. Tapi bagi saya itu sama juga dengan membohongi diri sendiri bahwa elemen di dalam karya musik yang mereka gubah tersebut tidak ada satu pun irisan dari realita maupun perspektif dari sang musisi itu sendiri. Itu sama halnya dengan menjual makanan yang isinya sudah basi tapi dikemas dengan baik dan pada akhirnya akan memberikan diare ke orang yang memakannya karena sang penjual tidak peduli akan kualitas barang dagangannya. Yang penting uang tetap lancar masuk ke dompetnya. Itu baru sellout bagi saya.

Namun ada juga momen ketika sang musisi memang membuat karyanya dengan segenap hati dan akhirnya ada pihak luar (baca: pemegang saham atau korporasi) yang ingin “bekerja sama” dengan musisi tersebut untuk mendapatkan keuntungan dari karya tersebut. Hal tersebut tidak masuk ke kotak sellout bagi saya. Karena sang musisi masih mempunyai kebebasan untuk membuat karya apa pun yang dia mau. Tanpa kekangan atau dorongan dari pihak lain di dalam proses kreatifnya. Konteks ini mungkin terjadi ketika Superman Is Dead berhasil meyakinkan Jan Djuhana (pimpinan Sony Music Indonesia waktu itu) untuk tidak ikut campur di wilayah berkesenian band-nya. Admit it, that sounds like a win-win solution. Band bisa tetap senang karena karyanya tidak diobrak-abrik pihak stakeholder, stakeholder pun senang ternyata karya yang dihasilkan sukses berat. Kalau tidak sukses, mereka tentunya punya kontrak yang sudah disepakati dua belah pihak sebelumnya dan itu menjadi titik batas intervensi dari kedua belah pihak.

Album Kuta Rock City milik Superman Is Dead yang dirilis di bawah naungan label mayor (via carousell.com)

Pada akhirnya, semua tetek bengek soal sellout ini sebetulnya tidak akan menyakiti pihak mana pun. Yaaa, mungkin reputasi untuk musisi yang dicap sellout akan memang terasa imbas nyinyirnya. Tapi lihat gambaran besarnya secara seksama: musisi tetap akan mendapatkan keuntungan dari karya yang mereka buat. Entah itu bentuknya finansial, eksposur, atau apa pun tujuan mereka mengiyakan proses kerjasama dengan pihak pemegang saham. Pemegang saham tetap bisa mendapatkan keuntungan finansial yang mereka inginkan. Para pendengar musik pun tetap mendapatkan karya yang mereka bisa dengar atau beli rilisannya. Para kritikus musik atau snobbish scenesters pun tetap mendapatkan asupan topik untuk mereka gibahkan respon.

Mungkin yang perlu digarisbawahi adalah semua persoalan mengenai sellout ini bisa saja bukan selalu tentang keserakahan sang musisi. Bisa saja momentum tersebut dilakukan untuk penyesuaian artistik atau pun kompromi sang musisi untuk tetap bisa melaju terus di kehidupannya dan tetap membuat musik yang ia sukai. Contohnya bisa saja ada suatu musisi yang memang terpaksa harus sellout karena tuntutan finansial personal yang masuk akal atau distribusi karyanya yang kurang mumpuni, kerjasama dengan pihak pemegang saham yang punya sumber daya bercakupan lebih besar  memang tidak dapat terelakkan untuk keberlangsungan proyek musik sang artis tersebut. Tapi pada akhirnya, parameter kesuksesan itu selalu berbentuk abstrak dan lentur. Siapa pun punya versi suksesnya sendiri dan -meski terdengar klise- seringkali semua itu tidak selalu berkaitan dengan tujuan akhir finansial atau komersil.

Ah tapi pada akhirnya, sebetulnya sah-sah saja untuk mengkonfrontasi siapa pun sebagai sellout. Selama itu semua kontekstual dan memang ada landasan konflik yang jelas. Bukan karena sebagai aksi patronasi sempit akan suatu konsep pemikiran (atau musik) yang seharusnya menjunjung tinggi keberagaman perspektif.

prablematic

Picking Teengenerate over Shonen Knife. Enjoying Monty Pythons

Leave a Reply