Pop-punk is Dying. Are You the One to Blame?

Just to add a little bit context to the controversial title, saya jelaskan dulu latar belakang saya dan apa korelasi saya dengan so-called the whole pop-punk debacle. Sekarang saya tergabung dengan sebuah media musik online yang diinisiasi oleh sebuah band terkenal asal Bandung. Band tersebut memang dikenal publik sebagai salah satu pionir pop-punk di Indonesia dan merunut dua album pertama mereka yang dirilis pada medio 2000-an awal silam, saya pun sepakat dengan anggapan publik tersebut. Merekalah yang awalnya mempopulerkan istilah pop-punk di sini dan musik yang mereka mainkan di beberapa albumnya memang mewakili sound pop-punk secara de facto dan efektif. Mungkin karena itu jugalah, citra publik terhadap media tempat saya bekerja sering diasosiasikan dengan pop-punk. Padahal tidak semua konten yang saya inisiasi dan garap di dalamnya selalu berkaitan dengan pop-punk. Let’s say, it’s a guilty by association thingy.

Seperti layaknya seseorang yang berkutat di sebuah media musik, saya pun sering menerima kiriman lagu dari berbagai macam band untuk saya ulas atau hanya untuk sekedar didengarkan di kantor saja (kalau materi lagu yang dikirimkan tidak menarik). Mungkin seperti yang saya sebutkan tadi soal citra media tempat saya bekerja, banyak sekali band yang mengklaim diri mereka sebagai pop-punk mengirimkan lagunya ke surat elektronik saya. Sialnya, 90% dari semua “band pop-punk” yang mengirimkan lagunya punya sound dan narasi yang sama. Basi. There I said it. Okelah kalau masih punya nuansa musik pop-punk generik ala Blink atau Neck Deep yang super-overused, tapi yang sangat menyebalkan adalah adanya beberapa band yang melabeli grupnya sebagai “band pop-punk” tapi lagu-lagunya malah lebih terdengar seperti musik pop rock kacangan ala soundtrack FTV murahan yang merebak pada tahun-tahun kejayaan sebuah acara musik yang sering kena tegur oleh KPI karena kontennya terlalu “raw” untuk khalayak publik di negara ini. Memuakkan.

Don’t get me wrong, saya percaya akan dinamika dan evolusi nuansa dari sebuah musik. Tapi apa yang terjadi di dalam pop-punk pada paruh satu dekade ini adalah sebuah dekadensi yang mengherankan. Bahkan gelombang pop-punk MTV 2000-an pun tidak seburuk dan segenerik ini. Walau band-band seperti SR71 atau Di-Rect pun sebetulnya sangat fabricated, tapi mereka tetap mencoba untuk mengaplikasikan beberapa poin penting di dalam parameter musik punk untuk tetap menciptakan ilusi relevansinya di dalam musik fabricated pop punk yang mereka mainkan. Sangat berbeda dengan band-band yang saya dengarkan di beberapa waktu ke belakang ini. Mereka hanya memainkan musik pop rock dan dengan entengnya melabeli diri mereka sebagai band pop-punk hanya untuk sebagai gimmick fashion/attitude. Like a monkey in a silk dress, nonetheless it is still a monkey.

SR-71, salah satu band “fabricated pop-punk” di era 2000-an. (via Youtube)

Ada pun dalih band-band tersebut mengklaim dirinya sebagai pop-punk karena mereka sebetulnya memang menyukai punk rock tapi harus memaksakan diri untuk kompromi (baca: mengalah dengan telak) dengan mimpi mereka untuk sukses di industri musik arus utama (baca: kaya raya lewat musik) lewat musiknya yang memang digubah sedemikian rupa agar kacangan. Masalahnya, apakah takaran sukses itu harus selalu industri arus utama? Dan haruskah konteksnya selalu finansial? Call me weird or goblok, kalau memang parameter kesuksesannya uang, kenapa tidak terus bermain pop-punk lebih jujur dan terus konsisten?

Kesuksesan secara komersil tidak hanya harus bergantung di selera genre dan pasar arus utama. Satu hal yang harus selalu dicamkan oleh para pelaku musik adalah: waktu = proses. Ambil contoh band-band macam Screeching Weasel, Mr T Experience, atau bahkan Squirtgun yang dulunya selalu main gigs kecil, tetap bersenang-senang karena memainkan musik yang mereka suka tapi di kemudian hari menjadi legenda dan terus menjual banyak merchandise dari tahun 90-an silam sampai hari ini? See? Being niche is still profitable if you can do it right. Fuck that narrow-definition of “success”.

Screeching Weasel, salah satu band pionir pop-punk di tahun 80-an dan masih aktif sampai hari ini. Blink-182 pun sempat meng-cover salah satu lagu mereka di album Buddha, “Girl Next Door”.

Apakah semuanya harus instan dan radikal? Seperti band-band yang mengaku-ngaku pop-punk tersebut dengan seenaknya menggunakan suatu status dan tidak bertanggung jawab terhadapnya. Jadi tidak heran kenapa pop-punk selalu dianggap remeh oleh banyak orang karena perilaku beberapa pelaku di dalamnya pun seperti itu. The truth always hurts, suck it up.

Hal lainnya yang membuat saya lumayan jengah adalah bebalnya para penggemar dan pelaku pop-punk yang meng-over-glorifikasi terhadap suatu band atau gaya permainan di genre tersebut sehingga semuanya seragam dan membosankan. Semua band ingin menjadi Blink. Semua band bergaya seperti Neck Deep. Semua band ingin sukses seperti Rocket Rockers. Akuilah, band-band tadi yang saya sebutkan memang lahir dan terproses di momentum yang tepat. Lebih tepatnya, di waktu dan tren yang tepat. Jadi ayolah, masih banyak referensi di luar sana yang bisa kamu implementasikan ke musik/band-mu agar apa yang kamu kerjakan masih punya nilai unik dan berbeda dengan band-band yang berada di dalam satu payung denganmu.

Ini 2021 dan terimalah kenyataan bahwa pop-punk tidak akan sebesar dulu lagi. Grow up, motherfuckers. No such thing as “make pop punk great again.” It has never been and never will if all pop-punk bands sound like shit. Pop-punk akan selalu menjadi anak haram di kancah akbar punk rock dan menjadi guyonan di kancah arus utama. Alasan kenapa band-band pop-punk favoritmu bisa “sukses” adalah mereka punya cara autentik tersendiri untuk bisa relevan pada pendengarnya yang spesifik. Tanpa menanggalkan kaidah dan fitur-fitur yang membentuk musiknya sendiri. Bukan meninggalkan identitasnya demi alasan klisemu.

Jargon belaka atau movement? You decide.

Lantas apakah pop-punk benar-benar sekarat? Secara harafiah, mungkin itu betul adanya. Karena terlalu banyak band-band berlabel “pop-punk” yang tidak bertanggung jawab dan menutup matanya bahwa apa yang mereka lakukan sangatlah konyol dan tidak berarti signifikan. Pop-punk tak lagi masuk akal apabila para pelakunya tetap bergumul di gelembung preferensi musik dan etos yang banal demi meraup “kesuksesan industri” belaka. Tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari apa pun yang dilekatkan dengan istilah pop-punk hari ini kalau semua pelaku di dalamnya tak pernah mengindahkan konsistensi dan keterbukaan pikiran. Terimalah kenyataan pahit itu.

Pada akhirnya, keputusan akhir tetaplah ada di tanganmu: apakah kamu mau mengalah dengan tren dan berubah menjadi generik? Atau tetap konsisten memainkan musik yang kamu suka dan terus bersenang-senang karena “kesuksesan” pasti kelak akan datang dalam bentuk yang lain. Think it through.

prablematic

Picking Teengenerate over Shonen Knife. Enjoying Monty Pythons

One thought on “Pop-punk is Dying. Are You the One to Blame?

  1. Ini menarik sih, gue sendiri terus bikin lagu ngebut gebrak-gebrak sampe saat ini, dan ga pernah ikut-ikutan teriak pake hastag make pop punk great again, ngapain? Punk kan not deat, hehe

Leave a Reply