Seven Feet To Vegas: Bogorian Emo Boys

Siapa bilang Emo sudah usang? We here at Knurd Club love our emo comrades. Walau kini musik Emo telah ditinggalkan oleh kebanyakan orang, tapi bagi lagu Emo masih cukup sering saya dengarkan. Lirik yang begitu dalam, dibarengi dengan musik yang berdistorsi namun dengan konteks “sedih” dan penyesalan. Meskipun musik emo baru ada selama beberapa dekade, musik ini telah mengalami banyak evolusi sejak asal-usulnya. Musik emo emosional dan mentah, dan banyak emo band yang berbeda memainkan interpretasi mereka sendiri tentang genre ini.

  1. Siapa Seven Feet To Vegas?
    Kami adalah band asal Bogor, yang baru saja di didirikan tepatnya desember 2020 dan baru
    saja menyelesaikan single perdana kami bulan maret akhir. Menyusung konsep Emo, dan
    memiliki 5 personil. Aldi (Gitar) Fadil (drum) Iyo (Vokal) Vijal (Gitar) Sidik (Bass).
  2. Kenapa memilih musik Emo?
    “Ga ada alasan kuat sebenernya, karna kami besar di era itu dan berhubung sekarang
    memang udah ga banyak yang tau juga apa itu musik emo, dan kita semua suka musik kaya
    gitu jadi pada akhirnya kita semua sepakat untuk memilih konsep tersebut” – Aldi
    “Lagu ini ngabisin waktu 2 bulan, Januari 2021 kami baru kenal satu sama lain, Februari kami
    brainstorming lagunya akan seperti apa, mau kaya gimana partnya, Maret kita recording,
    dan Maret akhir kami mixing dan Mastering.”
    Untuk saat ini lagu kami baru tersedia di Platform Youtube saja.
  3. Arti dari lagu “It’s All Has Been Written”
    Bercerita tentang titik terendah seseorang dimana dia tidak lagi berjalan di tepian jurang
    melainkan sudah jatuh ke dasar jurang tersebut. Fase dimana dia harus merelakan
    semuanya, melepaskan semua harapan-harapannya, keinginannya, dan segala hal yang
    sudah dia upayakan selama ini.

Ketika hidup di hadapkan pada sebuah kenyataan yang memaksa diri untuk belajar
menerima bahwa hidup terkadang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan
sebelumnya.
Lagu ini dibuat dari pengalaman pribadi, senyaman apapun keadaanmu saat ini, hati-hati
saat melangkah, mudah bagi Tuhan untuk membalikan keadaan seorang insan. Tetap
bersyukur.. Buat kamu yang saat ini berada diposisi bahwa dunia ini ga adil, jangan patah
semangat, keep moving.

  1. Ceritakan bagaimana proses kreatif saat merekam single “It’s all has been written”,
    berapa lama prosesnya, dan apakah ada tantangan teknis? Mengingat kalian baru
    kenal dan baru terbentuk.

Untuk proses rekaman kami cukup rumit dan di take ditempat yang berbeda”, kebetulan
kami punya kendala finansial alhasil kami harus sedikit memutar pikiran. Setelah kami tau
bahwa harga recording itu ga murah, Lalu kita putuskan untuk recording take nya dirumah
bermodalkan alat seadanya dan gua minta temen gua sebagai op nya dan kami bayar jasa dia.
Setelah materi beres, lirik, instrumennya seperti apa, kita langsung take dan prosesnya itu
memakan waktu selama seminggu. Kenapa bisa memakan waktu selama itu ya karna
memang kami kerjakan sendiri bukan di tempat recording komersial yang sehari pun bisa
beres, kami start take habis maghrib beres itu sekitar jam 12 an, lanjut lagi besok seperti itu.
Setelah beres take gitar, drum, dan bass kami lanjut ke take vokal namun ada sedikit kendala,
temen gua ini gapunya mic vokal, alhasil kami numpang ke studio orang lain untuk take vokal
nya dan allhamdulilah nya kami bisa numpang take vokal disana. Setelah beres semua part
recording nya kami lanjut ke bagian mixing dan mastering nya. Ini cukup bikin kami pusing
juga, kami cari tempat recording yang mixing yang bagus dan ga terlalu mahal. Setelah
banyak obesrvasi akhirnya kita dapet, kami hubungi adminnya, besoknya berangkat lah
kami kesana. Akhirnya kami setuju soal harga dan kami bilang kami minta waktu seminggu lagi
nanti baru dateng lagi kesini karna kami harus ngumpulin uang nya juga.
Seminggu kemudian kami dateng lagi ke tempat recording nya dan lihat hasil mixing dan
mastering nya kami cukup puas, untuk lagu pertama kami ga muluk-muluk harus seperti apa,
yang terpenting kedepannya harus lebih bagus lagi, dari segi lagu, dan aransemen musiknya.

  1. Dari segi musikal, bagaimana kalian mendeskripsikan konsep emo di single “It’s all
    has been written”? Lebih berat ke style mana referensi / influence musiknya?

Untuk refrensi ada beberpa band yang menjadi acuan kami, seperti alesana, a skylite
drive
, dan kita masukin juga nuansa Killing Me Inside album pertama mereka karena
kebetulan vokalis kami juga memiliki karakter yang hampir sama dengan vokalis pertama
Killing Me Inside.

  1. Setelah perilisan single “It’s all has been written”, apa rencana SFTV berikutnya?
    Jika ada rencana pembuatan EP/album, sudah sejauh mana progresnya?
    kami punya rencana bikin EP, nama EP nya Sadness Moment dan musik yang akan kami
    buat di EP ini bakalan karakter asli si Seven Feet To Vegas. Karna dari single pertama yang
    kami buat kita sudah bisa menilai karakter kami seperti apa jadi kami bakalan keluarin karakter
    kami sepenuhnya di EP ini. Untuk progress kami sudah punya satu lagu yang fix yang tinggal
    kami aransemen aja, kalo lagu yang pertama ini beres kami siap lanjut ke lagu kedua.
    Disamping kita sibuk bahas materi kita juga sambil ngumpulin uang untuk biaya rekaman EP
    kita ini, kita ngumpulin dari sekarang.

Simak single pertama dari Seven Feet To Vegas di bawah.

Seven Feet To Vegas:

Aldian Ricky Herlambang (Guitar Lead)
Efrijal (Guitar Rhythm)
Muhamad Fadhil Husein (Drum)
Iyo Anggara (Vokal)
Muhammad Sidik Maulana (Bass)

knurdclub

If pop punk is too loud, then you are too old.

Leave a Reply